Irjen Napoleon Pasang Tarif Rp7 M, Hapus Red Notice Djoko Tjandra

Senin, 2 November 2020 14:15

TRIO TERSANGKA: Dari kiri, Brigjen Prasetijo Utomo, serta Tommy Sumardi, dan Irjen Napoleon Bonaparte di Kejaksaan Neger...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadiv Hubinter) Polri, Irjen Pol Napoleon Bonaparte didakwa menerima suap sebesar SGD 200 ribu dan USD 270 ribu atau setara Rp 6,1 miliar dari terpidana kasus hak tagih Bank Bali, Djoko Tjandra.

Irjen Napoleon mematok harga Rp 7 miliar untuk menghapus nama Djoko Tjandra dalam red notice Interpol Polri.

Penghapusan red notice dilakukan agar Djoko Tjandra bisa masuk ke Indonesia untuk bisa mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). Saat itu, Djoko Tjandra sedang kabur ke luar negeri menghindari hukuman dua tahun penjara terkait kasus hak tagih Bank Bali.

Dalam dakwaan jaksa penuntut umum (JPU), Djoko Tjandra meminta rekannya yang merupakan seorang pengusaha, Tommy Sumardi untuk mencari tahu statusnya di NCB Interpol Indonesia yang berada di bawah pimpinan Irjen Napoleon Bonaparte. Sebab, dia mendapat informasi bahwa red notice terhadap dirinya sudah dibuka oleh Interpol Pusat di Lyon, Prancis.

Djoko Tjandra pun siap mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk bisa pulang ke Indonesia. Penyiapan uang miliaran rupiah dilakukan untuk memuluskan rencana Djoko Tjandra.

“Bersedia memberikan uang sebesar Rp 10 miliar melalui Tommy Sumardi untuk diberikan kepada pihak-pihak yang turut mengurus kepentingan Djoko Soegiarto Tjandra masuk ke Indonesia, terutama kepada pejabat di NCB Interpol Indonesia pada Divisi Hubungan Internasional Polri,” kata Jaksa Wartono membacakan surat dakwaan di PN Tipikor Jakarta, Senin (2/11).

Bagikan berita ini:
1
2
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar