Untuk “Petinggi Kita”, Irjen Napoleon Bonaparte Minta Rp7 Miliar kepada Djoko Tjandra

Selasa, 3 November 2020 11:04

Mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional Polri Irjen Napoleon Bonaparte di kursi terdakwa Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (2/11). Foto: Sigid Kurniawan/Antara

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) menceritakan kronologi mantan Kepala Divisi Hubungan Internasional (Kadivhubinter), Polri Irjen Napoleon Bonaparte meminta uang kepada Djoko Tjandra senilai Rp7 miliar untuk ‘petinggi kita’.

Kronologi itu disampaikan JPU saat membacakan dakwaan kepada Irjen Napoleon dalam persidangan di Pengadilan Tipikor Jakarta pada Senin (2/11/2020).

Jaksa menceritakan, awalnya Irjen Napoleon dipertemukan dengan Tommy Sumardi yang merupakan teman Djoko Tjandra. Tommy mengurus keperluan penghapusan red notice dan status buronan Djoko Tjandra.

Dalam pertemuan itu, Irjen Napoleon Bonaparte menyampaikan dirinya bisa menyanggupi penghapusan red notice Djoko Tjandra asalkan ada imbalannya.

Tommy Sumardi lantas menanyakan berapa nominal uang yang diperlukan untuk menghapus red notice. Irjen Napoleon menjawab Rp3 miliar.

Setelah pertemuan itu, Tommy menghubungi Djoko Tjandra yang saat itu berada di Kuala Lumpur, Malaysia.

Djoko Tjandra lantas mengirimkan uang USD 100 ribu ke Tommy Sumardi melalui sekretarisnya bernama Nurmawan Francisca.

Namun, sebelum uang itu diserahkan ke Napoleon, Tommy Sumardi bertemu dengan Brigjen Prasetijo Utomo. Prasetijo merupakan mantan Kepala Biro Koordinator Pengawas (Karo Korwas) PPNS Bareskrim Polri yang mengenalkan Tommy Sumardi ke Napoleon.

Brigjen Prasetijo lantas mengambil USD 50 ribu dari USD 100 ribu yang dibawa Tommy Sumardi untuk Napoleon.

Setelah itu, Brigjen Prasetijo dan Tommy mengantarkan uang USD 50 ribu ke Irjen Napoleon. Namun Napoleon tidak mau menerima dan malah meminta lebih dari Rp 3 miliar menjadi Rp 7 miliar.

Komentar