Relawan Jokowi Jadi Komisaris BUMN, Said Didu: Pak Erick Mungkin Lebih Parah dari Rini Soemarno

Rabu, 4 November 2020 17:21

Mantan Sekretaris BUMN Said Didu (Dok. JawaPos.com)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA–Langkah Menteri BUMN Erick Thohir mengangkat tiga relawan Jokowi menjadi komisaris BUMN dikritisi Muhammad Said Didu.

Mantan sekretaris Kementerian BUMN ini menilai apa yang dilakukan Erick Thohir lebih parah dibandingkan pendahulunya Rini Soemarno.

Untuk diketahui, dalam sebulan terakhir ada tiga relawan Jokowi yang diberkati jabatan di BUMN. Mereka adalah Ulin Yusron (Komisaris ITDC), Eko Sulistyo (Komisaris PLN), Dyah Kartika Rini (Komisaris Jasa Raharja).

Menurut Said Didu, awal-awal pemerintahan Jokowi yang kedua, dia beberapa kali bertemu Erick Thohir. Saat itu Erick Thohir menjanjikan akan tetap profesional.

“Awalnya saya mendukung dia (Erick Thohir) karena ada harapan bisa memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dilakukan Rini Soemarno dalam pengelolaan BUMN. Dan, Erick Thohir janji akan melakukan itu,” ungkap Said Didu dalam kanal MSD di YouTube.

Namun, seiring berjalan waktu, mantan Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said (2014-2016) ini menilai langkah Erick Thohir tidak sesuai janjinya.

Menurut penilaiannya, Erick Thohir mungkin lebih parah dari Rini Soemarno dalam pengelolaan BUMN.

“Mudah-mudahan saya salah. Ini analisis kebijakan, Pak Erick Thohir tidak usah marah. Jangan sampai lapor ke polisi,” ucapnya.

Said Didu menegaskan, berani mengkritisi kebijakan Menteri BUMN karena Erick Thohir adalah pejabat publik. Setiap pejabat publik harus siap dikritik.

Dia ingat saat menjabat sekretaris Kementerian BUMN, hampir tiap hari dikritik, didemo di mana-mana.

“Kenapa kami mengkritik karena Anda (Erick Thohir) mengelola uang negara dan aset rakyat. Bukan uang Anda pribadi. Kalau perusahaan Anda, silakan mau lakukan apapun itu hak Anda,” bebernya.

Said Didu menyayangkan Erick Thohir sudah mengabaikan semua nilai-nilai itu sehingga nekat menempatkan relawan Jokowi di jabatan komisaris BUMN. (esy/jpnn)

Komentar