Restrukturisasi Kredit Sebagai Terobosan OJK di Tengah Pandemi

Rabu, 4 November 2020 14:58

Oleh: Muhammad Arman

Wartawan FAJAR Makassar

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagaimana rilis resminya di awal November 2020 memastikan akan memperpanjang program relaksasi restrukturisasi kredit atau pembiayaan dan/atau dana lain per Maret 2021 hingga Maret 2022.

Kebijakan lanjutan ditempuh berdasarkan hasil evaluasi realisasi restruktrurisasi yang dinilai sudah mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terdampak pandemi Covid-19.

Setidaknya, ini merujuk pada data yang dikeluarkan OJK pada awal Oktober 2020 menunjukkan akumulasi realisasi restrukturisasi kredit/pembiayaan sektor perbankan mencapai 7,38 juta debitur (Rp884,5 triliun). Kemudian sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebanyak 5,82 juta (Rp380,6 triliun) per 7 September 2020.

Adapun perusahaan pembiayaan, realisasinya hingga 4,59 juta kontrak restrukturisasi (168,74 triliun per 22 September 2020), Bank Wakaf Mikro Rp4,5 miliar per Agustus 2020, dan Lembaga Keuangan Mikro 26,4 miliar per Agustus 2020.

Dengan melihat angka penerimaan publik tersebut, maka kebijakan restrukturisasi sesungguhnya bisa menjadi kekuatan dalam menjaga stabilitas sektor jasa keuangan dan menekan meningkatnya kredit macet atau Non Performing Loan (NPL). Maka, tidak heran OJK memutuskan untuk melanjutkan program ini.

Apalagi, kebijakan ini merupakan bentuk sinergitas OJK dengan Pemerintah dan perbankan untuk mendukung program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sebagai dampak dari pandemi Covid-19 yang belum bisa dipastikan kapan akan berakhir.

Bagikan berita ini:
5
5
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar