Unhas Tawarkan Konsep Penanganan Pascabencana yang Komprehensif di Luwu Utara

FOTO: ISTIMEWA

Fajar.co.id, Luwu Utara — Pusat Studi Kebencanaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menawarkan sebuah konsep penanganan pascabencana banjir bandang secara komprehensif di Luwu Utara. Konsep ini jika nantinya disetujui oleh pemerintah, baik Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan maupun Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, akan dibawa ke BAPPENAS untuk dikaji lebih jauh.

“Penanganan pascabencana banjir bandang di Luwu Utara memang butuh penanganan yang jauh lebih besar dan komprehensif, tidak hanya berharap dan mengandalkan sumberdaya di provinsi dan kabupaten saja,” kata Ketua Tim Pusat Studi Kebencanaan LP2M Unhas, Prof. Dr. Eng. Adi Maulana, ST.M.Phil., dalam acara Fokus Group Discussion dan Sidang Tim Pengendali Mutu Kajian Sedimentasi Pasca-banjir Bandang Revisi RDTR Kawasan Terdampak Bencana di Luwu Utara, Jumat (6/11/2020), di Ruang Rapat Sekretaris Daerah.

Adi Maulana menyebutkan, ada dua hal yang harus dilakukan dalam penanganan pascabanjir bandang secara komprehensif di Luwu Utara, yaitu penanganan di hulu, dan juga penanganan di hilir. “Yang pertama, kita harus menyelesaikan hulunya, baru kemudian kita selesaikan hilirnya. Ini yang kita maksud dengan penanganan yang sifatnya komprehensif,” jelas Adi yang mengaku mulai melakukan pengkajian kebencanaan di Luwu Utara sejak 2010 silam.

Konsep penanganan seperti ini telah ia usulkan ke BNPB dan Gubernur Sulsel. Dan itu direspon baik. Tinggal, kata dia, bagaimana konsep ini bisa disinergikan antar-stakeholder, baik di provinsi maupun di kabupaten, untuk kemudian membentuk sebuah Tim Task Force atau Gugus Tugas yang SK-nya nanti ditandatangani oleh Kepala Daerah, entah itu Gubernur Sulsel atau Bupati Luwu Utara. “Kenapa Aceh cepat bangkit, karena di sana ditunjang sisi policy atau kebijakan yang nantinya tentu akan bermuara kepada sisi financial,” jelas dia.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR