Ferforming Art Karaeng Daeng Naba, Mengangkatnya sebagai Gagasan

Rabu, 11 November 2020 08:46

Ferforming Art Karaeng Daeng Naba

FAJAR.CO.ID — Narasi tentang Karaeng Daeng Naba disusun dari potongan-potongan cerita yang tidak nyambung satu sama lain. Beberapa versi menautkan sosoknya dengan tokoh-tokoh arus utama dalam sejarah Kerajaan Gowa-Tallo yang kemudian eksodus ke Jawa pasca-perjanjian Bongayya.

Di lain versi, dia digambarkan sebagai emimpin pasukan bayaran asal Makassar dan Bugis didikan kompeni di Batavia. Ada juga sumber yang menyebutkan sosok ini telah muncul di zaman pra-Mataram, yakni di masa kerajaan Pajang.

Namun, di dalam setiap versi, Daeng Naba digambarkan berakhir di tempat yang sama dan meninggalkan jejak yang sangat kentara: keberadaan bregada prajurit Bugisan dan Dhaengan di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, serta tanah perdikan (sekaligus pembaringan terakhirnya) di Mlati, Sleman-Yogyakarta.

Boleh jadi, jejaknya itulah yang membuat narasi–di luar dari sumber keraton dan sumber “resmi” lain–tentang Daeng Naba dapat direproduksi sedemikian rupa. Sebab narasinya menyisakan begitu banyak ruang kosong yang bisa diisi siapa saja dan dengan apa saja. Tak pelak, narasi tentang Daeng Naba pun berkembang, bahkan kadang dimistifikasi dan diglorifikasi.

Ruang kosong tersebut juga berupaya diisi melalui pertunjukan ini dengan meminjam sosok Daeng Naba. Bukan sebagai figur historis, melainkan sebagai gagasan untuk membicarakan persoalan diaspora dan hibriditas orang-orang Makassar serta Bugis di Yogyakarta. Oleh karena itu, pertunjukan ini tidak berangkat dari satu narasi sejarah yang tunggal dan linier. Ia dibangun dari petikan-petikan narasi yang serba-beragam, yang kemudian disusun dan diolah menjadi satu skenario pertunjukan.

Komentar


VIDEO TERKINI