Manfaatkan Orang Miskin jadi Modus Korupsi

Rabu, 11 November 2020 08:27

ILUSTRASI. Korupsi

FAJAR.CO.ID, PANGKEP – Pengadaan barang Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) bermasalah. Harga barang jauh lebih mahal dari pasaran. Total bantuan yang diterima warga sebanyak Rp200 ribu. Itu dapat digunakan membeli beras, telur, dan ikan kaleng.

E-warung yang ditunjuk sebagai penyalur, sudah menentukan paket barangnya. Nilai paket yang diterima warga hanya senilai Rp156 ribu. Artinya, ada selisih Rp44 ribu dari harga pasaran.

Barang yang ditukar berupa beras 9 kilogram. Harga pasar hanya Rp81 ribu. Selain itu, ada telur ayam ras satu rak senilai Rp45 ribu dan dua ikan kaleng Rp30 ribu.

“Ada tiga lokasi jadi sampel kami, selisih harga cukup besar,” ujar Firman Hermanda, tokoh masyarakat Pangkep, Selasa, 10 November.

Menurutnya, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Kabupaten Pangkep sebanyak 23 ribu. Jika dikalikan selisih sebesar Rp45 ribu, maka pemilik e-warong mendapat keuntungan Rp943juta sebulan.

“Ada keuntungan telalu besar dan memanfaatkan warga tidak mampu,” tegasnya seperti dikutip dari Harian Fajar (Fajar Indonesia Network Grup).

Bagikan berita ini:
3
1
2
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar