Tolak Kekalahan, Trump Pecat Sejumlah Pejabat Amerika Serikat

Rabu, 11 November 2020 19:19

Donald Trump (MANDEL NGAN/ AFP)

FAJAR.CO.ID — Jelang akhir masa jabatannya, Donald Trump tak hanya menolak kekalahan, tetapi juga meninggalkan beban untuk presiden terpilih, Joe Biden.

Trump memulai pekan ini dengan mendepak Menteri Pertahanan AS Mark Esper. Menurut media, Esper dipecat karena beberapa kali menentang ide Trump. Salah satu yang paling fatal adalah menolak permintaan Trump mengirim militer untuk mengawal aksi protes Black Lives Matter.

”Christopher Miller akan menjadi pelaksana tugas menteri pertahanan secepatnya,” ungkap Trump via Twitter.

Menurut sumber internal, Trump sudah lama menyimpan daftar pejabat yang ingin didepak. Alasan dia tak menindaklanjuti rencana tersebut adalah saran tim kampanye. Menurut mereka, memecat pejabat kunci Gedung Putih bisa menurunkan kemungkinan menang di pemilu.

Namun, kini hal itu tak penting. Sejumlah tokoh dalam daftar terancam. Antara lain, Direktur CIA Gina Haspel, Direktur FBI Christopher Wray, dan Kepala National Institute of Allergy and Infectious Diseases Anthony Fauci.

”Saya merasa ini akan menjadi transisi pemerintahan paling kacau. Setidaknya sejak transisi pada 1932 saat depresi besar,” ujar Rebecca Lissner, pakar dari Georgetown University, kepada CNN.

Dari luar, Trump tampak belum mengakui kekalahannya. Jaksa Agung William Barr baru saja mengeluarkan memo, meminta bawahannya mencari daftar dugaan kecurangan pemilu. Biasanya, masalah kecurangan pemilu ditangani oleh jaksa agung tiap-tiap negara bagian. Sedangkan kejaksaan federal baru turun tangan setelah pemilu memastikan hasil penghitungan.

Selang beberapa jam terbitnya memo, Direktur Bagian Kejahatan Pemilu Departemen Kehakiman Richard Pilger mengundurkan diri. Dia menyatakan tak setuju dengan sikap jaksa agung yang meminta penyelidikan dimulai tanpa prosedur yang semestinya.

”Perintah ini otomatis membatalkan kebijakan non-interference policy (kebijakan larangan campur tangan) untuk kecurangan surat suara yang sudah dijalankan selama 40 tahun,” terangnya.

Sampai saat ini, tim kampanye Trump belum berhenti menggunakan segala upaya hukum untuk membalikkan hasil yang ada. Meski, belum ada gugatan yang berhasil membalikkan keunggulan Biden di perolehan suara elektoral. ”Pemilu ini belum berakhir,” tegas Jubir Gedung Putih Kayleigh McEnany menurut BBC.

Namun, lingkaran dalam Gedung Putih menyatakan bahwa Trump sebenarnya tak menyangkal kemenangan Biden. Karena itu, dia bertekad untuk memanfaatkan kekuasaan sepenuhnya di Gedung Putih hingga Januari.

Mungkin, beberapa mengatakan bahwa upaya Trump sia-sia. Tapi, beberapa pakar menyebut hal itu bisa bermanfaat bagi Trump. Lebih tepatnya, untuk Pemilu 2024.

Trump dikabarkan berminat untuk kembali menjadi capres 2024. Semua warisan yang ditinggalkan bakal menjadi modalnya untuk mempersatukan konstituen konservatif. Lihat saja politisi Republik yang sebelumnya diam kini mulai muncul lagi untuk membela Trump.

”Jangan minta presiden menerima dengan gembira hasil awal pemilu. Anda (Demokrat) selama empat tahun tak pernah mengakui hasil pemilu,” ungkap Pemimpin Mayoritas Senat AS Mitch McConnell menurut Associated Press.

Selama Republik bisa mempertahankan retorika yang memisah negara, bisa jadi popularitas Trump masih kuat dan memiliki kans pada Pemilu 2024. Para elite di Republik juga bisa menikmati keunggulan di Senat dan Mahkamah Agung. (JPC)

Komentar


VIDEO TERKINI