Kritik Anak Buah Megawati kepada Massa Habib Rizieq Shihab: Sangat Berbahaya

Sabtu, 14 November 2020 09:27

Penjemputan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab

FAJAR.CO.ID, JAKARTA— Politisi PDI Perjuangan, Rahmad Handoyo mengeritik kerumunan massa menyambut Habib Rizieq mulai dari Bandara Soetta, Petamburan, Tebet, hingga Megamendung, Bogor.

Seperti diketahui, saat tiba di Indonesia 10 November lalu, jutaan orang menyambut kedatangan Habib Rizieq dari Arab Saudi.

Massa berkumpul di Bandara Soekarno Hatta dan di kediaman Habib Rizieq di Petamburan, Jakarta Pusat.

Lalu Habib Rizieq Shihab menghadiri acara maulid Nabi Muhammad SAW di Tebet, Jakarta Selatan.

Setelah itu, HRS ceramah di Megamendung, Kabupaten Bogor.

Kedatangan Habib Rizieq di Tebet dan Megamendung disambut ribuan massa, Jumat (13/11).

Kerumunan massa dalam jumlah banyak ini pun dikritisi oleh Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo yang menyesalkan kegiatan Rizieq Shihab sering menimbulkan kerumunan massa.

Menurut politisi PDIP itu, kerumunan akibat acara yang dihadiri Imam Besar FPI itu berdampak pada semakin bertambahnya kasus virus corona baru (Covid-19).

“Ini suasana dan masa pandemi sangat berbahaya dan masih jauh dari kita bisa kendalikan Covid-19,” kata Rahmad kepada wartawan, Jumat (13/11).

Rahmad meminta Habib Rizieq Shihab menahan diri dari keinginan mengadakan kegiatan yang mengundang banyak orang.

Rahmad menegaskan kerumunan yang muncul sangat berbahaya di masa pandemi virus asal Kota Wuhan, China.

“Menyepelekan pandemi korona dengan mengadakan kegiatan semacam ini sangat berbahaya buat umat,” katanya.

“Bila sayang umat, bila ingin membuat umat selamat dari Covid-19 hentikan apapun bentuknya kegiatan yang memgundang atau berdampak kepada berkumpul kerumanan umat,” katanya.

Rahmad menegaskan, kalau terus kegiatan Habib Rizieq Shihab mengundang kerumunan massa, dampaknya akan terjadinya penambahan angka kasus positif Covid-19 di Tanah Air.

Padahal, kata Rahmad saat ini pemerintah tengah berusaha untuk menekan angka penularan.

“Kalau terus menerus adanya kegiatan ini maka sudah pasti bisa mengancam jiwa umat menjadi sumber klaster baru. Tidak ada cara lain selain hentikan segala acara,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan penelusuran Pojoksatu.id, masa inkubasi adalah jangka waktu antara terjangkit virus dan munculnya gejala penyakit.

Pada umumnya masa inkubasi Covid-19 diperkirakan berkisar dari 1 hingga 14 hari. Umumnya sekitar lima hari. Perkiraan ini akan diperbarui seiring dengan tersedianya lebih banyak data.

Salah satu hal yang masih diteliti para peneliti adalah terkait masa inkubasi virus.

“Biasanya akhir masa inkubasi ditandai dengan timbulnya gejala seperti batuk dan demam,” ungkap Lauren Ancel Meyers, profesor biologi integratif dari Universias Texas, seperti diberitakan Business Insider, (10/32020).

“Mencari tahu berapa lama waktu yang diperlukan sampai gejala itu muncul sangat relevan bagi Anda untuk berpikir mengenai berapa lama Anda harus benar-benar memantau orang untuk memastikan mereka tak terinfeksi,” ujarnya.

Melansir Worldometers, WHO dan Pusat Pengendalian Pencegahan Penyakit Amerika Serikat meyakini bahwa masa inkubasi virus adalah 2 hingga 14 hari.

Sementara itu, studi lain menyebutkan, periode inkubasi penyakit bisa lebih lama, yakni sampai 24 hari. (rmol/pojoksatu/fajar)

Komentar


VIDEO TERKINI