Penjemputan dan Pemberian Gelar Adat di Bone

Setiap tokoh yang berkunjung ke Bumi Arung Palakka akan dijemput secara adat. Namun, tidak semua tokoh bisa diberikan gelar adat.

FAJAR.CO.ID, BONE — Setiap tokoh yang berkunjung ke Bumi Arung Palakka akan dijemput secara adat. Namun, tidak semua tokoh bisa diberikan gelar adat. Hanya orang tertentu.

Budayawan Bone, Andi Muh Yushan Tenritappu menjelaskan, setiap tamu yang dianggap bali bocco atau yang diboccokkan dilaksanakan penjemputan secara adat yang bersumber dari leluhur Kerajaan Bone di masa lampau.

Di pintu gerbang rujab Bupati Bone sudah ada empat orang memegang payung menunggu. Ketika tokoh datang mereka langsung dipayungi. “Dilelli atau dipayungi tanda selamat datang, tanda satu bumi tempat berpijak dan satu langit tempat bernaung,” katanya Rabu (18/11/2020).

Kemudian disambut dengan tari alusu. Alusu yang berarti halus. “Itulah ungkapan masyarakat Bone menerima dengan halus,” bebernya.

Kemudian para tokoh yang yang disambut akan dibentangkan kain putih atau ditaluttu. Putih berarti suci. Penerimaan itu mengandung arti kesucian.

Lalu menginjak tanah sebagai pattula bala (menolak musibah), artinya menolak bala apabila ada yang akan terjadi dalam acara.

Setelah itu disambut dengan memmang (doa), yang merupakan doa-doa Bissu di masa lampau kepada dewata (Tuhan YME) supaya di dalam penerimaan tamu berjalan dengan lancar.

“Diterima terakhir watak cinde. Itu bentuk cincin yang dipegang oleh tamu dan diantar oleh tokoh adat masuk di Saoraja (Istana kerajaan),” jelas Yushan.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR