Jadi Bulan-bulanan Warganet, Firli Bahuri Mengaku Salah Ucap soal Buku yang Dibaca Anies Baswedan

Rabu, 25 November 2020 09:35

Anies Baswedan (FOTO by Instagram)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri jadi bulan-bulanan warganet lantaran mengaku sudah lama membaca buku ‘Why Nations Fail’.

Firli Bahuri mengaku membaca buku ‘Why Nations Fail’ pada tahun 2002. Padahal, buku tersebut baru diterbitkan pada tahun 2012.

Setelah dikritik warganet, akhirnya Firly mengklarifikasi bahwa dirinya salah ucap tahun soal buku Why Nations Fails yang ia baca, seharusnya tahun 2012 bukan 2002.

“Nah, saya sudah lama baca buku itu, maksudnya saya baca Why Nations Fail tahun 2012, buku ini yang saya maksud,” kata Firly Bahuri dalam keterangannya, dikutip dari Antara.

Firli Bahuri mengaku buku Why Nations Fail yang dibacanya itu adalah edisi pertama yang diterbitkan di Inggris Rata pada 2012 dan bukan terjemahan versi Bahasa Indonesia.

“Buku Why Nations Fail yang saya maksud yang saya sudah baca pada tahun 2012, edisi asli yang di-publish pertama di Inggris raya tahun 2012 (bukan terjemahan Indonesia). Bukunya masih saya simpan di perpustakaan saya,” katanya.

Sebelumnya, Firli Bahuri menjadi sorotan usai menyinggung buku ‘How Democracies Die’ yang dibaca oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beberapa waktu yang lalu.

Anies Baswedan mengunggah sebuah foto di Instagram dan Twitter yang menunjukan dirinya tengah membabaca buku ‘How Democracies Die’ pada Minggu pagi, 20 November 2020.

Dalam unggahan foto tersebut, Anies Baswedan tengah duduk di kursi kayu dengan rak buku kayu di belakangnya.

Anies Baswedan duduk sambil membaca buku yang ditulis oleh Steven Levitsky dan Daniel Ziblat itu.

Firly Bahuri mengaku sudah membaca buku tersebut pada 2002. Ia pun menyebutkan bahwa buku itu adalah buku lama.

“Kemarin saya lihat ada di media, Pak Anies membaca How Democracies Die. Sebelum itu ada bukunya Why Nations Fail, itu sudah lama saya baca pak, tahun 2002, saya sudah baca buku itu,” kata Firli dalam acara Serah Terima Barang Rampasan dari KPK, Selasa 24 November 2020.

“Kalau ada yang baru baca sekarang, kayak baru bahwa itu (sebenarnya) udah lama. Nah makanya banyak yang mengkritisi. Udah lama buku itu pak,” sambungnya.

Namun, ternyata buku yang disebutkan Ketua KPK itu, yakni buku How Democracies Die baru terbit pada tahun 2012 dan buku Why Nations Fail pun terbit tahun 2018.

Akibat ucapannya tersebut, nama Firli Bahuri pun ramai dibahas oleh warganet. Bahkan tercatat trending topik di Twitter pada Selasa, 24 November 200.

Mantan Juru Bicara KPK, Febri Diansyah turut memberikan komentar melalui akun Twitter pribadinya.

“Karena kalo 2002, UU KPK nya baru disahkan kan ya,” tulis @febridiansyah.

“Semoga yang dimaksud bukan buku: “How KPK Die” sindir Febri Diansyah. (pojoksatu/fajar)

Komentar