Sebut Kasus Edhy Prabowo Ecek-ecek, Ferdinand Hutahaean: Diam tentang Fee e-Formula

Rabu, 25 November 2020 14:39

Ferdinand Hutahaean (FOTO: @ferdinand_hutahaean/instagram)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan disebut memimpin penangkapan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo.

Edhy ditangkap bersama pegawai KKP dan keluarganya dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan tim satgas KPK di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (25/11) dini hari.

Menanggapi itu, eks Politikus Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengucapkan selamat kepada KPK yang berhasil menangkap tokoh sekelas Edhy. Namun Ferdinand menilai, dugaan korupsi yang dilakukan Edhy hanya kasus kecil.

“Saya ucapkan selamat kepada @KPK_RI yang berhasil menangkap sosok besar (menteri) dengan korupsi ecek-ecek suap benih lobster,” tulis Ferdinand dikutip akun twitternya, Rabu (25/11).

Ferdinand memberi tantangan kepada Novel Baswedan agar bisa mengungkap aliran uang pembayaran komitmen penyelenggaraan (commitment fee) Formula E Rp.560 miliar yang kadung dibayar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Pada APBD 2019, Pemprov DKI membayar commitment fee sebesar Rp360 miliar untuk pelaksanaan Formula E tahun 2020. Sementara itu, pada APBD 2020 juga telah dibayarkan commitment fee sebesar Rp200 miliar untuk pelaksanaan Formula E pada 2021.

Formula E tahun 2020 yang sedianya dilakukan bulan Juni telah dibatalkan akibat pandemi Covid-19. Smenetara itu, Formula E tahun 2021 juga belum ada kejelasan hingga kini.

“Semoga KPK, bung Novel Baswedan juga memimpin timnya turun ke Pemprov DKI Jakarta memeriksa aliran uang fee E Formula Rp.560 M yang raib merugikan negara. Ini korupsi,” ungkap Ferdinand.

Komentar