Tak Mengindahkan Prokes, Sanksi Tertulis Hingga Tutup Izin Usaha, PHRI Sulsel Bilang Begini

Kamis, 26 November 2020 10:28

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR– Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah belum lama ini menegaskan bahwa bagi institusi baik hotel maupun restoran yang tak menerapkan protokol kesehatan akan dikenakan sanksi tertulis hingga sanksi tutup izin usaha.

Hal itu dilakukan jika hotel maupun restoran tengah mengadakan kegiatan, seperti acara pernikahan, pertemuan atau rapat, yang kedapatan tidak menerapkan protokol kesehatan.

Mendengar itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan, Anggiat Sinaga menyatakan siap menerima sanksi tersebut.

Oleh karena itu ia meminta kepada seluruh penanggungjawab hotel dan restoran agar berkomitmen dan konsisten dalam memerangi pandemi Covid-19.

“Masalah sanksi, hotel-hotel dan restoran pasti siap melaksanakan protokol kesehatan karena jujur, apa yang disampaikan itu adalah bagian daripada yang sudah kita laksanakan. Satu saja yang kita minta yaitu komitmen,” kata Anggiat, Kamis (26/11/2020).

Selain itu, Gubernur Sulawesi Selatan juga menyinggung terkait pelayanan hotel, dalam hal ini soal konsumsi pengunjung yang masih menggunakan sistem buffe atau prasmanan.

Sehingga, Nurdin berharap General Manager hotel dapat mengganti sistem pelayanan konsumsi menjadi meal box atau nasi kotak.

“Kemarin itu tanggal 1 Oktober kita sudah laksanakan apa yang diminta dengan meniadakan buffe. Semua harus meal box tapi di awal November kita hotel-hotel berubah,”jelas.

“Nah beliau (Gubernur) lihat, kenapa berubah? Sehingga beliau minta untuk ketemu dan mengingatkan supaya kita kembali ke komitmen awal. Jadi senin depan tidak ada lagi buffe yang ada adalah meal box,” sambungnya kemudian.

Sebagaimana diketahui, sejak pandemi potensi penyerabaran bisa saja terjadi baik melalui droplet, udara maupun benda-benda yang disentuh oleh orang yang terjangkit virus.

Misalnya sendok hotel dipegang oleh orang yang tidak memiliki gejala namun terjangkit virus Covid-19, lalu disentuh lagi oleh orang-orang yang sehat, akhirnya penularan virus dengan cepat menyebar.

Itu sebabnya pemerintah menganjurkan untuk mengalihkan sistem pelayanan konsumsi pengunjung yang awalnya prasmanan, kini beralih ke nasi kotak. (Anti/fajar)

Bagikan berita ini:
9
3
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar