Tengku Zulkarnain: Zaman Orde Baru yang Dibilang Otoriter, Saya Ndak Mengalami Penindasan

Jumat, 27 November 2020 10:54

WAKIL Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ustadz Tengku Zulkarnain.* /Instagram Tengku Zul/

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ustaz Tengku Zulkarnain menceritakan kisahnya bergabung dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI), hingga menjabat sebagai Wasik Sekretaris Jenderal (Wasekjend) sejak tahun 2010 hingga 2020.

Ustaz yang akrab disapa Tengku Zul ini mengaku sudah mulai gabung MUI sejak tahun 2003.

Ia pernah di Komisi Dakwah dan Komisi Fatwa sebelum menjabat Wasekjen MUI. Ulama kelahiran Medan, Sumatra Utara, 14 Agustus 1963 ini mengaku sudah gabung MUI sebelum Joko Widodo belum menjadi apa-apa.

“Makanya ketika ada isu-isu mengatakan Tengku Zulkarnain itu masuk MUI itu dibiayai Cendana, untuk menggusur atau menyerang Jokowi, ini Anda enggak ngerti,” cetus Tengku Zul saat berbincang dengan Fadli Zon, dikutip Pojoksatu.id dari chanel Youtube Fadli Zon Official, Jumat (27/11).

“Waktu saya masuk MUI, Jokowi masih nyerut kayu. Belum jadi apa-apa. Walikota juga belum,” sambung Tengku Zul.

Tengku Zul membantah keberadaannya di MUI bertujuan untuk menyerang Jokowi. “Apa urusannya saya masuk MUI menyerang Jokowi, enggak ada urusannya. Tapi itulah, framing itu namanya, ndak apa-apa, bagi kita ndak ada masalah. Tak ada urusan kita dengan itu,” ucapnya.

Tengku Zul menceritakan pengalamannya ceramah sejak masa Orde Baru hingga sekarang.

“Saya mulai dakwah masih zaman Orde Baru, umur 16 tahun saya sudah jadi khotib Jumat,” katanya.

Komentar