Pengampunan Kalkun

Sabtu, 28 November 2020 09:02

DAHLAN-ISKAN

Oleh: Dahlan Iskan

HARI raya kalkun kali ini begitu banyak diwarnai persoalan politik. Maka meja-meja makan pun dipenuhi pembicaraan politik. Tidak lagi seperti tahun-tahun lalu: banyak memperdebatkan soal pertandingan sepak bola.

Di hari raya ini, ada kabar sangat baik dari Presiden Donald Trump.

“Saya pasti meninggalkan gedung ini, asal… ” ujar Trump di pidato hari raya kemarin WIB, “…. Joe Biden sudah dinyatakan terpilih secara resmi.”

Berarti salah semua spekulasi para pengamat selama ini. Ternyata Trump itu penganut azas legalitas. Bahwa ia belum mengakui kemenangan Biden itu karena secara hukum memang Biden belum menang. Baru media dan perhitungan di atas kertas yang mengatakan Biden menang.

Berdasar logika itu, Biden memang baru bisa disebut sebagai ”presiden terpilih” pada tanggal 14 Desember. Mungkin sore atau malam hari. Yakni ketika para pemegang ”kursi” electoral vote berkumpul untuk memilih presiden.

Maka sebenarnya, secara hukum, Presiden Amerika itu tidak dipilih langsung oleh rakyat. Tapi dipilih oleh para pemegang ”kursi” electoral vote.

Seperti Anda sudah tahu, Amerika itu dibagi ke dalam 538 daerah pemilihan. Yang di sana disebut electoral vote. Maka barang siapa memenangkan 270 dapil berarti ia menang.

Biden telah memenangkan 306 dapil. Trump hanya memenangkan 232 dapil. Dapil-dapil itulah yang akan berkumpul tanggal 14 Desember. Mereka, 538 dapil itu, memilih presiden Amerika Serikat. Dalam sejarah Amerika belum pernah terjadi dapil yang dimenangkan A memilih capres B.

Komentar