Prof Jimly Asshiddiqie: Ini Pembunuhan, Harus Dibasmi dari Bumi Nusantara

Minggu, 29 November 2020 20:18
Prof Jimly Asshiddiqie: Ini Pembunuhan, Harus Dibasmi dari Bumi Nusantara

Anggota DPD Prof Jimly Asshiddiqie -- jawa pos

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), mengecam pembunuhan dan pembakaran satu keluarga di Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).

“Ini pembunuhan, bukan cuma kekerasan,” kata Ketua Umum ICMI, Prof Jimly Asshiddiqie melalui akun Twitter pribadinya, @JimlyAs, Minggu (29/11).

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menilai, kekerasan dan pembunuhan tidak boleh dilakukan dengan alasan apapun.

Guru besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) ini menegaskan, tindakan kekerasan dan pembunuhan harus dibasmi.

“Pengurus ICMI juga mengecam kekerasan dan pembunuhan di Sulteng tersebut. Atas nama & alasan apapun, tindak kekerasan & pembunuhan adalah kebiadaban yang harus dibasmi dari bumi nusantara,” tegas Jimly.

Saat ini, aparat gabungan masih memburu pelaku pembakaran satu keluarga di Sigi, tepatnya di Desa Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah pada Jumat (27/11).

Insiden yang menewaskan empat orang jemaat gereja tersebut dilakukan oleh kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

“Tadi Tim Tinombala sudah menyampaikan tahap-tahap yang dilakukan untuk mengejar pelaku dan melakukan isolasi dan pengepungan terhadap tempat yang dicurigai ada kaitan dengan para pelaku,” ucap Menko Polhukam Mahfud MD melalui keterangan pers yang disiarkan Youtube Kemenko Polhukam RI, Minggu (29/11).

Berdasarkan laporan yang diterima dari Satgas Tinombala, Mahfud meyakini bahwa kelompok MIT adalah pelaku dari penyerangan tersebut. Ia mengatakan pihaknya masih terus melakukan perburuan terhadap pelaku.

“Memang pelakunya adalah Mujahidin Indonesia Timur, kelompok Mujahidin Indonesia Timur ini adalah sisa kelompok Santoso yang sekarang masih tersisa beberapa orang lagi dan [satgas] operasi Tinombala sedang mengejar sekarang,” kata Mahfud.

Mahfud meminta seluruh pemimpin umat beragama di Sulawesi Tenggara agar tidak terprovokasi oleh insiden ini dan isu SARA lainnya.

Mahfud menekankan pembakaran yang dilakukan pelaku tidak dilakukan di gereja, namun di sebuah tempat yang kerap dijadikan tempat pelayanan umat.

“Tentu pemerintah mengutuk keras kepada pelakunya dan menyatakan duka yang mendalam kepada korban dan keluarganya,” tandas Mahfud. (pojoksatu/fajar)

Bagikan berita ini:
2
6
6
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar