2021, Potensi Kelahiran Anak Sapi Hasil IB di Sinjai Capai 7 Ribu Ekor

Selasa, 1 Desember 2020 13:57

Potensi kelahiran anak sapi (pedet) hasil Inseminasi Buatan (IB) tahun 2021 di Kabupaten Sinjai mencapai 7 ribu ekor.

FAJAR.CO.ID, SINJAI – Potensi kelahiran anak sapi (pedet) hasil Inseminasi Buatan (IB) tahun 2021 di Kabupaten Sinjai mencapai 7 ribu ekor. Hitungan tersebut didasari atas jumlah induk sapi yang telah dimasukkan spermatozoa sepanjang tahun 2020.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Sinjai, Aminuddin Zainuddin menjelaskan, ternak sapi umumnya mengalami masa bunting selama sembilan bulan.

Sapi yang telah dimasukkan IB per Januari baru bisa diketahui bunting atau tidaknya tiga bulan setelah dimasukkan spermatozoa. Sehingga dia memastikan, semua sapi yang di-IB pada tahun 2020 akan melahirkan pada tahun 2021.

“Waktu Pak Menteri Pertanian kunjungan ke Sinjai bulan Juni lalu, pedet yang kita kumpulkan ada 3 ribu ekor lahir tahun 2020 tapi proses IB tahun 2019, baru separuhnya yang lahir karena kami IB 6 ribu induk sapi,” bebernya

Menurut Aminuddin, sejak Januari hingga November, pihaknya telah melakukan IB sebanyak 7 ribu ekor sapi. Jumlah tersebut dipastikan akan terus bertambah hingga akhir tahun 2020.

“PKb (Petugas Kebuntingan DPKH Sinjai) juga tetap melakukan pemantauan terhadap sapi betina yang telah di-IB untuk memastikan tidak ada masalah selama proses kebuntingan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Aminuddin, Petugas Peternakan Kecamatan (PPK) juga selalu siap siaga memberikan pelayan kesehatan jika sapi peternak terserang penyakit atau mati mendadak.

“Tapi kita punya program AUTS (Asuransi Usaha Ternak Sapi), jadi peternak tidak perlu khawatir jika dalam proses kebuntingan dan kelahiran anak sapi, induk sapi hilang atau atau mati. Risiko kerugian peternak bisa diatasi karena setiap sapi yang dilakukan IB disertai dengan pendaftaran asuransi,” tegas Aminuddin.

Untuk program AUTS ini, tambah Aminuddin, pihak asuransi akan memberikan uang klaim Rp10 juta untuk sapi mati dan Rp7 juta untuk sapi yang hilang.

“Peternak juga tidak perlu membayar premi karena Pemerintah Daerah mensubsidi, tapi banyak peternak tetap mau bayar preminya karena merasakan manfaatnya,” jelasnya. (sir)

Komentar


VIDEO TERKINI