Huda Prayoga Sebut Jenderal Idham Azis Kurang Sensitif Penanganan Teror Palu

Selasa, 1 Desember 2020 09:05

Direktur Indonesia Government and Parliament Watch (IGPW), M. Huda Prayoga. Foto: Dokpri for JPNN.com

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Untuk menyikapi aksi teror Sigi, Sulawesi Tengah, Menteri Koordinator bidang Politk Hukum dan Keamanan Mahfud MD menggelar konferensi pers bersama Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto di kantornya, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Senin (30/11/2020).

Konferensi pers tersebut tidak dihadiri Kapolri Jenderal (Pol) Idham Aziz tetapi diwakili oleh Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Prabowo Argo Yuwono.

Tidak disebutkan alasan ketidakhadiran orang nomor satu di kepolisian tersebut. Direktur Indonesia Government and Parliament Watch (IGPW), M. Huda Prayoga menyesalkan hal tersebut.

Huda menilai, Idham tidak menunjukkan sensitivitas memadai atas teror yang terjadi pekan lalu tersebut.

“Konferensi pers yang dihadiri Menko Polhukam dan Panglima TNI tersebut tentu menjadi hambar, karena tiang utama pemberantasan terorisme adalah kepolisian. Keterlibatan TNI hanya untuk mendukung kepolisian,” ujar Huda dalam keterangan tertulis, Senin (30/11/2020) malam.

Huda kemudian membandingkan dengan Kapolri terdahulu Tito Karnavian yang selalu terdepan dalam menjelaskan dan menenangkan publik dalam setiap isu terorisme yang ditangani kepolisian.

“Ketidakhadiran Kapolri Jenderal Idham Azis menunjukkan kurang sensitifnya atas isu teror yang menyita perhatian publik. Padahal beliau sebenarnya juga berasal dari Densus 88 yang concern menangani terorisme,” papar Huda yang juga Ketum DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) DKI Jakarta 2017-2019.

Lebih lanjut, Huda mengharapkan hal ini bukanlah cerminan kurang seriusnya institusi kepolisian. Pasalnya, tindakan teror merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus ditangani dengan cara-cara luar biasa.

“Sebenarnya terasa janggal, penjelasan Menko Mahfud soal langkah pemerintah menangani kelompok teror Ali Kalora dan komitmen Panglima TNI mengirimkan pasukan khusus guna membantu Polri, namun tak dihadiri pimpinan tertinggi di institusi kepolisian,” pungkas Mahasiswa Magister UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini. (jpnn/fajar)

Bagikan berita ini:
5
9
10
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar