Putuskan Belajar Tatap Muka 2021, IGI Nilai Bentuk Keputusasaan Pemerintah

Ramli Rahim

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR– Ketua Ikatan guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim menilai kebijakan dibukanya kembali pembelajaran tatap muka merupakan bentuk keputusasaan pemerintah terhadap Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Menurutnya proses pembelajaran jarak jauh gagal total dan tidak memberikan efek positif sama sekali terhadap anak murid.

Bagaimana tidak, di masa pembelajaran jarak jauh, justru orang tua yang lebih berperan untuk mengerjakan tugas anaknya dibandingkan murid itu sendiri.

Bahkan terdapat beberapa orang tua yang berharap agar sekolah tatap muka dapat dilaksanakan, namun dengan menerapkan protokol kesehatan.

“Jadi pemerintah merasa putus asa karena proses PJJ itu gagal total. PJJ yang selama ini kita jalankan kan sisi negatifnya lebih banyak dari pada sisi positifnya, jadi lebih banyak masalah daripada manfaatnya,” kata Ramli, saat dihubungi, Sabtu (5/12/2020).

Selain itu, minimnya pengetahuan teknologi tenaga pendidik yang hampir mencapai 60 persen juga menjadi salah satu faktor pembelajaran jarak jauh tidak efektif.

Oleh karena itu, sebelumnya ia telah meminta kepada pemerintah agar para guru diberi waktu untuk mengetahui terkait pembelajaran online yang efektif dan tidak membosankan.

Salah satunya meminta supaya mengundur tahun ajaran baru 2020/2021 dari bulan Mei 2020 digeser ke Januari 2021.

“Tapi pemerintah tidak peduli. Kami minta digeser karena kita sudah prediksi bahwa pandemi ini bukan masalah pendek, ini masalah panjang dan lama, makanya kami butuh untuk diundur supaya guru juga ada waktu untuk tau bagaimana belajar online yang menyenangkan,” jelasnya.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR