Danny Pomanto Rendahkan Jusuf Kalla, Pakar: Semua Orang Menyayangkan

Minggu, 6 Desember 2020 18:37
Danny Pomanto Rendahkan Jusuf Kalla, Pakar: Semua Orang Menyayangkan

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — “Mulutmu harimaumu”. Pernyataan bernada merendahkan, menyinggung, atau menuding tanpa bukti yang dilancarkan Calon Wali Kota Makassar (petahana), Mohammad Ramdhan ‘Danny’ Pomanto terhadap tokoh terkemuka Sulsel, Jusuf Kalla menuai sorotan banyak pihak.

Sebutan JK si Chaplin yang mengalir santai dari mulut Danny dinilai tidak hanya mengecewakan masyarakat Sulsel, tetapi juga akan menyakiti perasaan pendukung Danny sendiri di Pilkada Makassar 2020.

“Memang kejadian ini adalah blunder politik. Seharusnya tokoh seperti Pak Danny ini yang dalam posisi menjadi pusat perhatian untuk berhati-hati dalam membuat statemen,” nilai Pengamat Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar Andi Luhur Priyanto, Minggu (6/12/2020).

Sebagai tokoh publik yang segala gerak gerik dan ucapannya dipelototi masyarakat, Luhur mengingatkan, hendaknya Danny Pomanto mawas diri dan pandai mengontrol dirinya agar tidak ada lagi kegaduhan yang lebih parah.

“Mesti safety juga dalam setiap pergerakannya, karena apapun yang dilakukan sekarang apalagi dalam kontestasi yang sangat ketat seperti sekarang ini, itu akan menjadi bahan bagi lawan politik untuk membuat serangan-serangan politik,” tegasnya.

Ia menjelaskan, hal itu berpotensi sebagai bahan negatif campaign. Dan dalam kondisi kritical seperti saat ini, akan menjadi bahan bagi lawan untuk bisa dikemas berulang-ulang hingga setelah tahapan sosialisasi berakhir.

“Kan tipe pemilih saat ini masih ada orang yang belum menentukan pilihan, nanti menjelang pencoblosan baru menentukan pilihannya, dan mereka itu juga bukan semua pemilih rasional yang masih mempertimbangkan identitas bisa menjauh pada situasi saat ini, yang bisa saja mereka berada di kubu Pak Danny,” katanya.

Bagaimana pun, kata dia, JK merupakan tokoh dan tidak bisa dinafikkan kontribusinya bagi Indonesia timur, khususnya Sulawesi Selatan.

“Saya kira semua orang menyayangkan (pernyataan Danny), karena ini bisa diolah dan menjadi bahan negatif campaign. Ini lawannya bukan cuma 2 ya, ada 3 dan 4, tergantung siapa yang bisa cepat mengolah ini untuk menjadi dukungan. Jadi ini tergantung mesin pengolahan masing-masing kandidat,” kuncinya.

Sebelumnya diberitakan, Sebuah video berdurasi 1 menit 58 detik viral di media sosial pada Sabtu (5/12/2020) pagi.

Video yang berisi rekaman suara mantan Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Danny Pomanto itu, diduga direkam diam-diam oleh seseorang pada Minggu, 27 November 2020 sekitar pukul 9.30 Wita.

Danny mengungkap, ada permainan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam penangkapan Edhy Prabowo. Dia mengaitkan posisi Novel Baswedan di KPK dengan kedekatan JK dan Anies Baswedan.

Dalam rekaman itu, orang tersebut juga mengatakan, ada upaya JK mengadu domba Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo Subianto. Lagi-lagi, analisa ini berdasarkan penangkapan Edhy Prabowo oleh KPK.

Danny juga menyebut JK dan Anies Baswedan adalah pihak yang paling diuntungkan dalam kasus suap benih lobster tersebut. Diuntungkan secara politik maupun pengalihan isu negatif.

“Jadi yang paling untung ini JK. Begitu memang si caplin. Jago memang mainnya. Tapi kalau kita hafal, apa yang dia mau main ini,” kata Danny dalam rekaman suara tersebut.

Danny Pomanto tidak menampik bahwa suara itu adalah dirinya. “Jadi sebenarnya itu adalah percakapan biasa, analisis politik dan hak setiap orang kan begitu. Sebenarnya saya korban ini. Kenapa ada yang rekam dan sebar. Aneh,” ungkap Danny dalam klarifikasinya. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
5
7
7
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar