Jika Benar Senpi Milik Laskar FPI, Hendardi Bilang Alasan Polisi Bisa Diterima

Selasa, 8 Desember 2020 09:08

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran saat menunjukkan barang bukti kepada wartawan di depan Gedung Ditreskrimum Pold...

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Penembakan polisi terhadap laskar Front Pembela Islam (FPI) pengawal Habib Rizieq menuai banyak respon. Salah satunya Ketua Setara Institute, Hendardi.

Hendardi berpendapat, langkah anggota Polri menggunakan senjata merupakan hal yang diperkenankan.

Syaratnya, itu dilakukan selama mengikuti prosedur-prosedur yang ketat dan harus dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam hal ini, aparat harus mengacu pada Peraturan Kapolri 1/2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian dan Peraturan Kapolri 8/2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara RI.

“Dalam kasus ini, Polri telah menggelar jumpa pers dan memaparkan alasan obyektif adanya ancaman terhadap jiwa manusia anggota Polri sebagai pembenaran atas tindakan represif yang dilakukan anggotanya,” ujarnya dilansir PojokSatu.id dari RMOL, Senin (7/12/2020).

Hendardi turut prihatin dengan meninggalnya warga sipil pengawal Rizieq Shihab dalam kasus ini.

Hanya saja, dia mengaku bisa menerima peristiwa ini jika apa yang disampaikan Polda Metro Jaya dalam jumpa pers benar terjadi di lapangan.

“Jika betul senjata-senjata yang ditunjukkan Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya adalah senjata milik anggota FPI, maka pembelaan Polri atas jiwa anggotanya yang terancam bisa diterima,” tekannya.

Namun demikian, untuk memenuhi standar yang diterapkan dalam Perkap 8/2009 tersebut, Polri harus melakukan evaluasi pemakaian senjata api oleh anggotanya.

“Kapolri dapat memerintahkan Divisi Pengamanan Profesi dan Pengamanan (Propam) untuk melakukan evaluasi atas fakta-fakta yang menjadi alasan pembenar penggunaan senjata api,” pungkas Hendardi.

Sebelumnya, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Fadil Imran mengatakan, peristiwa ini bermula saat polisi mendapat informasi rencana pengerahan massa terkait jadwal pemeriksaan terhadap Rizieq Shihab di Polda Metro Jaya.

Informasi itu lantas diselidiki kebenarannya oleh petugas kepolisian.

“Ketika anggota mengikuti kendaraan yang diduga pengikut MRS, kendaraan petugas dipepet kemudian diserang dengan menggunakan senjata api dan senjata tajam,” kata Irjen Fadil Imran di Polda Metro Jaya.

Karena penyerangan itu mengancam keselamatan jiwa petugas, maka dilakukan tindakan tegas terukur.

Alhasil, enam pengawal HRS tewas ditembak polisi. Sedangkan empat lainnya melarikan diri.

Fadil juga menyebutkan pelaku penyerangan terhadap anggota polisi di KM 50 Tol Cikampek pukul 00.30 Wib merupakan laskar khusus pengikut Rizieq Shihab.

Fadil menegaskan kelompok ini dipersenjatai senjata api asli dan benda tajam lainnya.

Dia menyebut pihaknya sudah mengidentifikasi kelompok laskar khusus tersebut sejak lama.

Kelompok ini, kata Fadil, merupakan kelompok yang sering menghalang-halangi penyidik saat mengantar surat panggilan kepada HRS. (pojoksatu/fajar)

Komentar