Cerita Anandra soal Hari-hari Terakhir Laskar FPI yang Ditembak Mati

Jumat, 11 Desember 2020 09:48

Kakak korban Muhammad Suci Khadafi Putra yaitu Anandra memberi kesaksian di Komisi III DPR (ist)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Keluarga anggota FPI yang ditembak mati polisi, Muhammad Suci Khadafi, mengungkap hari-hari terakhir korban. Biasanya tak mau dipeluk, Kamis itu Khadafi memeluk ibunya.

Kakak kandung Muhammad Suci Khadafi, Anandra, di Komisi III DPR RI, Kamis (10/12) mengungkapkan hari-hari terakhir keluarganya bersama adiknya tersebut.

“Ketemu terakhir Kamis malam Jumat. Adik saya itu salaman dengan ibu. Dipeluk. Ma doain dedek ya. Tumben dia mau dipeluk sama ibu saya. Biasanya dia gak mau, karena mungkin sudah besar ya,” ungkapnya.

“Mau kemana. Tanya ibu saya. Ngawal habib ke Megamendung,” cerita Anandra saat adiknya Khadafi berangkat dari rumah.

Sesudah berangkat pada Kamis malam Jumat tersebut, keluarganya masih komunikasi dengan Khadafi.

Terakhir komunikasi, antara Sabtu malam Minggu atau Minggu malam Senin, Khadafi video call dengan ibu dan keluarganya.

“Dia senyum. Terus kami tanya lagi ngapain. Sudah makan atau belum,” jelasnya lagi di hadapan anggota Komisi III DPR.

Sesudah itu, tidak ada lagi komunikasi dengan Khadafi.

Namun pada Senin pagi, ada anggota Laskar FPI yang datang ke rumah Anandra dan menanyakan apakah Khadafi sudah pulang atau belum.

“Loh, bukannya mengawal Habib ke Megamendung,” ungkap keluarga Anandra saat itu.

Tak lama kemudian, keluarga Anandra disuruh datang ke Petamburan.

Anandra mengungkapkan bahwa ada tiga luka tembak di tubuh adiknya, M Suci Khadavi.

“Lukanya seperti ditembak jarak dekat. Ayah saya cerita sambil berderai air mata, luka tembak di dada ada tiga,” ungkap Anandra.

Ayahnya ikut memandikan langsung anaknya tersebut.

Anandra melanjutkan, terdapat luka robek di bagian punggung Khadavi. Menurutnya luka tersebut akibat diseret saat insiden terjadi.

“Di jidat ada biru seperti dihantam senjata api yang belakangnya. Alhamdulilah muka bersih karena mungkin tidak dipukul di muka. Hanya dihantam di belakang sepertinya,” ujarnya.

“Sampai dikafankan pun darah masih mengucur. Subahanalloh. Buat kami itu sangat luar biasa ya, ” ungkapnya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI, Kamis (10/12).

“Buat kami sangat luar biasa, itu seperti pembantaian, berarti tidak ada perlawanan di sana, seperti yang diberitakan itu bohong. Buat kami. Saya tak bisa berkata-kata lagi, ” sambung Anandra. (pojoksatu/fajar)

Bagikan berita ini:
2
8
8
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar