Minta Semua Pihak Bersikap Adil, Prof Jimly: Jangan Anggap Remeh Pelanggaran HAM

Jumat, 11 Desember 2020 22:44

Anggota DPD Prof Jimly Asshiddiqie -- jawa pos

FAJAR.CO.ID — Sejak amandemen kedua tahun 2000, hampir semua instrumen Hak Asasi Manusia (HAM) sudah diadopsi jadi materi Pasal 28 A sampai dengan Pasal 28 J UUD 1945. Tinggal promosi, implementasi dan penegakan di lapangan.

Itu disampaikan guru besar fakultas hukum Universitas Indonesia (UI), Prof Jimly Asshiddiqie, melalui akun Twitter pribadinya, @JimlyAs, Jumat (11/12/2020).

“Tidak ada demokrasi sejati tanpa tegaknya HAM sebagai cermin sila kedua Pancsila. Semoga semua pemimpin terus ingat,” kata Jimly.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu menyebut sejak tahun 2000, materi terbanyak UUD 1945 adalah tentang HAM.

“Maka jangan anggap remeh soal HAM dalam praktik kekuasaan kapan pun, di manapun, oleh siapapun pemegang kekuasaan atau non-state actor sesama warga, ormas ataupun korporasi. Implementasinya menentukan kemajuan peradaban bangsa menurut sila kedua Pancsila,” tegas Jimly.

Menurut Jimly, pelanggaran HAM tidak mengenal istilah kedaluarsa, sehingga bisa diproses kapan saja.

Jika tidak bisa diproses sekarang, kata Jimly, masih bisa dibongkar dan diproses di masa yang akan datang.

“Sampai kapan pun bisa dibongkar dan diproses hukum. Maka siapa saja merasa pernah jadi korban, sambil diperjuangkan secepatnya, kumpulkan segala fakta dan data sebagai bukti di masa depan. Kalau tidak selesai sekarang di masa depan akan terus dapat diperjuangkan,” jelas Jimly.

Komentar


VIDEO TERKINI