Polemik Penembakan 6 Laskar FPI, Pengamat Hukum: Jati Diri Polri Jadi Taruhan

Jumat, 11 Desember 2020 20:28

Pengawal HRS yang diduga ditembak mati polisi (ist)

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Penembakan enam laskar Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta belum lama ini, jadi perhatian serius bagi praktisi dan pengamat hukum.

Versi polisi, itu terpaksa dilakukan karena massa berusaha melawan aparat saat menyelidiki kasus kerumunan acara pernikahan putri Habib Rizieq Shihab (HRS).

Daripada mati konyol, polisi yang ada di lokasi pun melawan dengan melepaskan tembakan dan menewaskan enam Laskar FPI itu.

Pengamat Hukum, Prof Laode Husein, bilang, konsekuensinya ialah, kepercayaan masyarakat kepada polisi pun jadi taruhan pasca kejadian itu.

“Dengan kejadian ini juga, jati diri institusi menjadi taruhannya,” katanya, Jumat (11/12/2020).

“Betapa tidak, Polri dalam grand strateginya membangun kepercayaan (trust building), dengan dukungan anggaran puluhan triliun harus ambruk dengan tindakan personel yang tidak profesional,” sambung dia.

Prof Laode Husein mengatakan, jika aparat kepolisian diserang hingga membuat nyawanya terancam, polisi lebih dulu melakukan tindakan peringatan lalu masuk ke tahap selanjutnya.

“Jika polisi merasa diserang, maka tindakan yang dilakukan adalah melakukan peringatan lalu tindakan tegas terukur. Misal melumpuhkan,” katanya.

Sementara kata melumpuhkan, lanjut akademisi asal Universitas Muslim Indonesia (UMI) ini, ialah menembak ke arah ban atau kaki, jika orang yang menjadi target operasi itu berusaha kabur menggunakan kendaraan atau lari.

“Tembak ban kalau mobil sedang di jalan dengan kecepatan tinggi. Tembak ban itu namanya terukur, bukan tembak mati sampai enam orang,” pungkasnya. (ishak/fajar)

Komentar