Suap Suami Inneke Disebut Wujud Kedermawanan, ICW: Putusan MA Tidak Masuk Akal

Ilustrasi MA. (int)

FAJAR.CO.ID — Berdasar putusan Peninjauan Kembali (PK) dari Mahkamah Agung (MA), hukuman suami Inneke Koesherawati, Fahmi Darmawansyah, dikurangi dari 3 tahun 6 bulan menjadi 1 tahun 6 bulan penjara.

Indonesia Corruption Watch (ICW) mempertanyakan putusan PK yang dijatuhkan MA terhadap Fahmi Darmawansyah, terpidana kasus suap mantan Kalapas Sukamiskin, Wahid Husen, itu.

“Putusan ini sangat tidak masuk akal, selain karena pengurangan hukuman, juga menyangkut argumentasi yang dijadikan dasar permohonan PK itu diterima oleh Mahkamah Agung,” kata peneliti ICW, Kurnia Ramadhana, dalam keterangannya, Jumat (11/12).

Kurnia menyampaikan, ada dua argumentasi yang tidak logis disampaikan dalam putusan tersebut. Pertama, majelis hakim menyebutkan bahwa warga binaan lainnya menikmati fasilitas yang sama di dalam Lapas, sehingga putusan yang dijatuhkan terhadap terpidana bertentangan dengan prinsip perlakuan yang sama atau diskriminasi dalam due process of law.

“Pertimbangan ini janggal, penting untuk diketahui publik, bahwa KPK melakukan serangkaian upaya penindakan berdasarkan adanya laporan masyarakat. Jika laporan masyarakat tersebut berkaitan dengan tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh Fahmi Darmawansyah, bagaimana mungkin KPK dapat menindak pihak lain? Lagi pula KPK bertindak melandaskan pada kecukupan alat bukti, tidak secara begitu saja menindak pihak lain, yang mungkin alat buktinya juga belum cukup,” cetus Kurnia.

Kedua, menurut Kurnia majelis hakim menyebutkan bahwa pemberian mobil Mitsubishi Triton yang dimintakan oleh Wahid Husen bukan dikehendaki atas niat jahat dari Fahmi Darmawansyah, melainkan karena sifat kedermawanannya.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR