Tidak Menyamakan Covid-19 sebagai Azab

Petugas membawa jenazah pasien yang dimakamkan secara protokol Covid-19 di Kabupaten Jember. (PMI Jember/Antara)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA  Dewan Pakar Pengurus Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PW ISNU) Gorontalo, Muhammad Makmun Rasyid mengajak tokoh agama tidak menyamakan COVID-19 sebagai azab. Karena tidak ada dalil yang menjadi rujukan virus Corona sebagai tentara Allah SWT.

“Virus ini bukan siksaan, bukan azab,” tegas Makmun dalam diskusi daring bertema Agama dan Mitigasi COVID-19 di Jakarta, Kamis (10/12).

Dia mengatakan wabah COVID-19 harus ditanggulangi dengan segala upaya untuk kemaslahatan bersama. Salah satunya dengan menerapkan protokol kesehatan 3M (Memakai Masker, Mencuci Tangan, Menjaga Jarak).

Menurutnya, penerapan protokol kesehatan tersebut dapat menyelamatkan banyak orang. Peran tokoh agama bertujuan agar membimbing umat sehingga mampu melewati cobaan tersebut.

“Pandemi agar dimaknai sebagai instrumen yang mengembalikan kesadaran bersama untuk saling menjaga. Ini tahap penyucian dalam diri kita, tazkiyatun nafs dan pengembalian kesadaran untuk menjaga bersama. Indonesia ini sajadah kita bersama,” paparnya.

Pandemi COVID-19, lanjutnya, menjadi momentum menguji iman seseorang. Saat wabah terjadi umat diminta untuk dapat bisa mementingkan kemaslahatan.

Terlebih dalam Islam, kata Makmun, sangat dianjurkan agar tidak mengutamakan kepentingan ibadah diri sendiri ketika terjadi wabah. Sehingga ada toleransi beribadah.

“Hal yang kita perbuat tidak selalu untuk pribadi. Tetapi juga kemaslahatan bersama. Bukan hanya kita. Tetapi, orang lain juga ada. Kita tidak boleh ada kerumunan di masjid. Kita bisa lakukan ibadah di rumah,” pungkasnya. (rh/fin)

Komentar


KONTEN BERSPONSOR