Pilkada Turut Memantik Warkop Jadi Ruang Publik

FOTO: ISTIMEWA

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dulu, tradisi minum kopi di warkop hanya dilakoni segelintir orang. Seiring zaman, semua kalangan kini memanfaatkan warkop sebagai ruang interaksi.

Kebiasaan nongkrong, kongkow atau berkumpul di warkop menjadi aktivitas yang banyak dijumpai termasuk di Makassar. Kedai Bujang dan KM 10 School berkolaborasi untuk mengulas aktivitas nongkrong di warkop tersebut.

Sebagai narasumber, dihadirkan Andi Faisal yang merupakan akademisi FIB Unhas. Narasumber kedua yakni Apriadi Bumbungan, penggiat kebudayaan di KM10 School.

Menurut Faisal, momentum Pilkada langsung pertama tahun 2000 turut memantik warkop menjadi ramai. Warkop menjadi tempat ngobrol yang santai dan bebas membicarakan politik.

”Jadi orang mulai berani ke warkop juga sebab sudah bebas berkumpul, taka da pengawasan sama seperti di masa orde baru,” jelasnya, Sabtu (12/12/2020) di Kedai Bujang.

Di Pilkada tahun ini, lanjut alumnus doktor Kajian Budaya dan Media di UGM ini juga terlihat bagaimana warkop menjadi tempat yang digunakan untuk membahas wacana politik hingga ke pemenangan kandidat.

”Saya bahkan pernah mendapatkan ada pelatihan berbasis politik itu dilaksanakan di warkop. Mereka menyusun strategi pemenangan,” tegas Faisal.

Sementara itu, pemateri kedua Apridi Bumbungan menilai aktivitas nonkrong di wakop menjadi ruang kedua dan ketiga dan menjadi bagiab sub kultur urban para anak muda.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR