Pengamat: Tak Selamanya Percobaan Dinasti Politik Beri Keuntungan

Minggu, 13 Desember 2020 13:00
Belum ada gambar

ILUSTRASI

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pengamat Politik dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto, menganggap, dinasti politik rupanya bukanlah jaminan dalam Pilkada atau pemilihan lain.

Hanya segelintir orang saja yang bisa menang. Salah satunya Adnan Purichta Ichsan yang menang telak di Pilkada Gowa 2020 baru-baru ini mengalahkan Kotak Kosong (Koko).

Meski Adnan menang dan memang berlatar dinasti politik keluarga, namun itu bukan jaminan bagi orang lain yang ingin meniru jejak keluarga Yasin Limpo (YL) ini.

Andi Luhur mencontohkan, ketika Fatmawati Rusdi Masse berpaket dengan Abdul Majid maju di Pilkada Sidrap tahun 2018, dia justru diungguli oleh rivalnya, Dollah Mando – Mahmud Yusuf.

Fatmawati hendak melanjutkan perjuangan suami tercintanya, Rusdi Masse (RMS) membangun Sidenreng Rappang ini. Sayangnya itu gagal.

“Di tingkat lokal seperti ketika Fatmawati mencoba melanjutkan kepemimpinan RMS di Sidrap, atau putera Bupati Jeneponto Radjamilo, Ashari Fakshirie pun gagal memenangkan Pilkada Jeneponto,” katanya, Sabtu (12/12/2020).

“Secara nasional, data Kenawas 2020. Antara tahun 2015 hingga 2018, dari 202 pasangan calon berkarakter politik dinasti, hanya 117 yang menang dan 85 percobaan politik dinasti gagal,” sambungnya kepada Fajar.co.id.

Kata dia, dinasti politik seseorang merupakan keistimewaan yang dimiliki oleh seseorang untuk maju dalam Pilkada.

“Politik dinasti sebenarnya soal keistimewaan keturunan dan kerabat-kerabat penguasa dalam melanjutkan kekuasaan. Meskipun tetap melalui pemilihan rakyat, keturunan atau kerabat penguasa mendapat prioritas dukungan dan kemudahan akses dikandidasi,” jelasnya.

Bagikan berita ini:
10
4
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar