Pelaku Bisnis Cemas Tunggu Hasil Final, Brexit Diberi Tambahan Waktu

  • Bagikan

FAJAR.CO.ID – Brexit belum berakhir. Meskipun sudah berjanji bahwa keputusan harus dicapai Minggu (13/12), Perdana Menteri Inggris Boris Johnson dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen sepakat untuk memberi tim negosiator perpanjangan waktu.

Keputusan tersebut dicapai setelah dua pimpinan itu melakukan percakapan via telepon selama 30 menit sejak pukul 12.00 waktu Brussel. Johnson dan von der Leyen memutuskan untuk melanjutkan negosiasi setelah mendengar laporan dari masing-masing tim negosiator.

’’Meskipun sudah lelah setelah satu tahun berunding, kami merasa bahwa melanjutkan negosiasi adalah tanggung jawab yang harus kami penuhi,’’ ungkap mereka dalam pernyataan bersama yang dikutip The Guardian.

Baca juga: Antisipasi Brexit Januari, Inggris Kirim Vaksin dengan Pesawat Militer

Seharusnya, akhir pekan itu merupakan batas akhir negosiasi. Jika buntu, no deal adalah keputusan finalnya. Namun, anulir dari pimpinan Inggris dan Uni Eropa (UE) itu membuat status Brexit kembali mengambang. Kali ini, mereka tak menetapkan batas waktu.

Publik tak menyambut baik pengumuman tersebut. Sebab, itu artinya mereka bakal dibuat resah dalam dua minggu mendatang.

Ketua British Retail Consortium Helen Dickinson mengatakan bahwa dunia bisnis bakal menjadi yang paling menderita. ’’Kami sulit menentukan persiapan apa yang harus dihadapi pada 1 Januari nanti,’’ ungkapnya.

Meski begitu, Helen berharap bahwa perpanjangan waktu tersebut tak sia-sia. Dia mengatakan, Inggris bakal menghadapi tarif impor senilai 3 miliar poundsterling jika hubungan dagang dengan Uni Eropa sesuai aturan World Trade Organization (WTO). Hal tersebut pada akhirnya sampai ke level konsumen yang harus menghadapi kenaikan harga barang.

Belum lagi, proses bea cukai yang bakal lahir karena aturan WTO. Hal tersebut juga pasti mendongkrak harga barang yang dibeli masyarakat.

’’Saat ini banyak orang yang sudah terpukul karena virus korona. Rumah tangga tak sanggup lagi menerima pukulan ekonomi lainnya,’’ tegasnya.

Politisi dua kubu ingin menyebar optimisme di tengah tenggat yang mendekat. Mereka jelas tak ingin bisnis dan bursa panik karena kemungkinan perceraian tanpa perjanjian. Salah satunya, Perdana Menteri Irlandia Michael Martin.

Dia menjelaskan, 97 persen perjanjian sudah disepakati. Dia mengatakan, pembicaraan yang terus berlangsung hingga tengah malam membuktikan bahwa masih ada hal yang bisa didiskusikan. ’’Saya yakin sisa kesepakatan bisa dijembatani dalam sisa waktu,’’ ungkapnya kepada Agence France-Presse.(jpg/fajar)

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan