Muhammadiyah: Tidak Menceritakan Mimpi Bertemu Nabi Adalah Bagian dari Tawadhu

Kamis, 17 Desember 2020 18:08

Ilustrasi Muhammadiyah

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Gonjang-ganjing mimpi bertemu Rasulullah SAW dan diceritakan ke khalayak ramai menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat. Pada dasarnya banyak hadis sahih yang meriwayatkan mimpi bertemu Rasulullah.

Dalam hadis-hadis tersebut disebutkan bahwa siapapun yang bermimpi melihat Nabi, maka sungguh orang itu telah melihat Rasulullah tersebab setan takan mampu menyerupai tubuhnya.

Namun ada kecaman serius dari Rasulullah bila mengaku-ngaku bertemu dengannya dalam mimpi. Barangsiapa yang berdusta, Sabda Nabi, orang itu telah mengambil tempat duduk di neraka.

Menanggapi hadis tersebut, Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ajengan Wawan Gunawan Abdul Wahid menyatakan bahwa orang yang bertemu dengan Rasulullah dalam mimpi merupakan anugerah dari Allah.

Akan tetapi, ujar Ajengan asal Garut ini, pengalaman tersebut tidak perlu disampaikan kepada publik lantaran dikhawatirkan menimbulkan pemahaman yang lain.

“Biasanya Muhammadiyah tidak membahas perihal yang seperti itu. Karena dikhawatirkan menimbulkan pemahaman yang lain. Bahwa misalnya itu terjadi, orang Muhammadiyah tidak terbiasa mengungkap hal itu,” tutur dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini pada Rabu (16/12/2020).

Ajengan Wawan menjelaskan bahwa pertemuan seseorang dengan Rasulullah dalam sebuah mimpi merupakan pertanda dari penghayatan relijius dan bagian dari kesadaran irfani.

Ia juga menuturkan bahwa ulama besar sekelas Ahmad Dahlan pasti pernah merasakan pengalaman tersebut, namun dirinya memilih untuk tidak menyampaikannya pada khalayak ramai.

Komentar