Hobi Berkebun di Sela Kesibukan Kerja

Jumat, 18 Desember 2020 15:01

Ketua DPD Inkindo Sulsel Satriya Madjid untuk menjalani hobinya beraktivitas di kebunnya.

Berkebun menyehatkan dan membuat pikiran rileks. Ini juga bisa menjadi ajang transfer ilmu dan teknologi bagi para petani.

Laporan: EDWARD AS

FAJAR.CO.ID — Udara begitu dingin, hujan masih terus membasahi bumi. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat Satriya Madjid untuk menjalani hobinya beraktivitas di kebunnya.

Setelah bekerja sepekan penuh di Makassar, setiap Minggu pagi, Wakil Ketua Umum Kadin Sulsel ini menyambangi kebun jagung miliknya yang berada di Maros. Baginya momen akhir pekan adalah cara untuk menghilangkan stress sekaligus untuk menjaga kesehatannya.

Baginya berkebun menjadi kegiatan yang paling menyenangkan. Setiap akhir pekan penamplilan formal sebagai eksekutif lenyap di hamparan kebun.

Sejumlah penelitian, berkebun ternyata bisa sama dengan olahraga dalam hal pembakaran kalori oleh tubuh. Setelah seharian berkebun misalnya, tubuh tentu saja menjadi lelah.

“Menurut penelitian, jumlah kalori yang dibakar selama berkebun antara 280 kalori hingga 380 kalori per jam. Bila dibandigkan dengan olehraga berlari, setara dengan jogging selama 30 menit atau berlari dengan jarak 2,5 kilometer. Lumayan bukan,” kata Satriya Madjid, Minggu 13 Desember lalu.

Pria kelahiran Sengkang, 28 Agustus 1977 ini menceritakan jiwa petani sudah mendaradaging. Sejak kecil dirinya sering ikut membantu orang tuanya saat menggarap kebun miliknya.

Hal tersebut membuat sudah sangat dekat dengan dunia pengolahan tanah. Namun di balik itu dia juga membawa misi lain untuk memajukan dunia petani dengan pendekatan teknologi dan penggunaan bibit unggul agar bisa meningkatkan perekonomian mereka.

“Untuk lahan saya di Maros ini saya tanam jagung F-1 untuk bibit unggul. Bibit unggul ini ditanam lanjut untuk hasil yang maksimal,” ucapnya.

Pria yang juga Ketua DPP Inkindo Sulsel ini, kini sedang gencar mengajak teman seprofesi dan koleganya untuk menggeluti dunia pertanian. Menurutnya dunia pertanian sangat menjanjikan.

Menjadi petani tidak selamanya harus bersentuhan dengan penggarapan tanah. Bisa juga dengan menjadi penyedia lahan dan bibit. Sedangkan pengolahannya dilakukan oleh orang lain.

Cara ini akan membuka peluang kerja untuk para petani. Selain itu dengan terlibatnya dalam pertanian akan bisa memutus rantai tengkulak yang selama ini menguasai hasil pertanian.

“Penghasilan petani sebetulnya itu banyak, mengalahkan pegawai atau buruh. Namun tekendala dari belitan hutan dari tengkulak. Ini yang harus diputus,” akunya.

Alumnus Magister perencaan wilayah dan kota Universitas 45 ini menambahkan, dia juga sering mengajak petani binaanya untuk berkumpul untuk berbagi informasi. Sakadar kumpul untuk bakar ikan dan minum kopi. Cara ini membuatnya serasa ada di kampung halamannya.

“Suasana di kebun itu nyaman, udarahnya bersih dari polusi. Bisa juga membuat kita tenang,” kuncinya (*)

Komentar


VIDEO TERKINI