Jadi Daerah Penghasil Nikel, Tata Kelola Energi Sulsel Harus Dimaksimalkan

Sabtu, 19 Desember 2020 18:37
Belum ada gambar

FOTO: ISTIMEWA

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pengurus Besar IKAMI Sulsel 2020-2022 menggelar Ngobrol Perkara Energi (Ngopi) tentang tata kelola energi dan sumber daya mineral dengan Keynote Speaker, Johan NB Nababan selaku Direktur PT Timah Industri.

Dalam diskusi melalui virtual zoom itu, Johan NB Nababan, mengungkapkan bahwa nikel hanya ada di Sulsel, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Tenggara.

“Nikel adalah bahan anti karat. Bauksit ada di Kalimantan barat dan kalimantan tengah. Sedangkan emas ada di seluruh Indonesia. Inilah yang disadari oleh pemerintah untuk bagaimana mengelolanya dengan sebermanfaat mungkin agar mencapai hasil diinginkan,” ungkapnya, Sabtu (19/12/2020)

Menurut Johan, daerah Sulsel jika mampu dikelola dengan baik, maka energinya mampu menerangi daerah Sulsel hingga Sulselbar.

“Karena kita punya energi besar yang terkandung di negara kita ini. Di daerah-daerah Indonesia pun energi nikel apa lagi berbicara uranium yang sangat panjang hampir habisnya kalau ini kita mampu menggagas dan menciptakan pabrik pengelolaan daya simpan listrik, tentu energi ini mampu menjadi sebuah matahari bagi seluruh Negara Indonesia,”ujarnya.

Johan menambahkan, banyak pihak tidak mengetahui bahwa hilirisasi mineral sudah dirancang sejak masa order lama dulu sejak kedatangan Presiden RI yang ke-1 Bung Karno yang mengunjungi Pabrik Stainless Steel (SS) Ansteel di anhui oleh Republik rakyat China pada tahun 1956 dan pada saat itulah Bung Karno berpidato di depan buruh dan manajemen Pabrik SS.

“Dunia sepakat untuk konsen di nikel. Batu bara dan minyak bumi kini sudah mulai berkurang, karena nikel sekarang itu memiliki kandungan litium yang dimana dapat menyiman sebuah energi baterai listrik. Tentu ini mampu memberikan efek ke depan untuk seluruh dunia khususnya Indonesia,” terangnya.

Berdasarkan data dari kementerian didapatkan bahwa porsi energi baru (EBT) dalam baruan energi nasional hingga semester pertama 2020 baru mencapai 9,15% dan target 23% pada tahun 2025. Besarnya jarak antara target yang ingin dicapai dengan kondisi saat ini, mengindisikan bahwa pemerintah harus mampu melakukan transformasi energi dan start lebih duluan untuk maju mencapai target tersebut. (ikbal/fajar)

Bagikan berita ini:
10
6
9
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar