Ridwan Kamil Berani Sebut Mahfud MD Pemicu Kerumunan Massa HRS, Pengamat Politik Bilang Ini

Minggu, 20 Desember 2020 22:23

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Foto: Antara/HO Humas Pemprov Jabar.

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Aksi Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil yang ‘menunjuk hidung’ Menko Polhukam Mahfud MD terbilang cukup berani.

Sebab, pria yang akrab disapa Kang Emil itu menuding Mahfud MD sebagai pemicu kerumunan pengikut Habib Rizieq Shihab.

Menanggapi hal itu, pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio meyakni, aksi Emil itu tidak asal dilakukan.

Bahkan, pria yang akrab disapa Hensat ini menduga, Emil sudah tahu bahwa Mahfud MD menjadi salah satu menteri yang bakal didepak Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Atas hal itu pula, Hensat menduga akhirnya Emil berani melontarkan pernyataan yang disampaikan usai menjalani pemeriksaan di Polda Jabar itu.

“Mungkin RK denger tuh, makanya kemudian dia berani tegur Mahfud. Mungkin ada pergeseran,” ujarnya kepada RMOL, Minggu (20/12/2020).

Hanya saja, pendiri lembaga survei Kedaikopi ini merasa Mahfud akan tetap berada di kabinet.

Sebab, mantan ketua MK itu punya banyak kelebihan dan hal positif selama menjabat sebagai Menko Polhukam.

“Kalau terkait statemennya Pak Mahfud, enggak cuman itu juga apa namanya kehebohan, kelebihannya kan ada juga. Hal yang bagus yang dikerjakan oleh Pak Mahfud,” terangnya.

Karena itu, Hensat meyakini, tokoh asal Pamekasan, Madura itu tidak akan terdepak dari Kabinet Indonesia Maju.

“Jadi menurut saya, kalaupun ada pergeseran ya mungkin dia digeser,” tandasnya.

Untuk diketahui, usai melontarkan pernyataan itu, Ridwan Kamil dan Mahfud MD terlibat saling balas melalui media sosial.

“Siap, Kang RK. Saya bertanggungjawab,” cuit Mahfud sebagaimana dikutip PojokSatu.id, Rabu (16/12/2020).

Mahfud mengakui bahwa dirinya sendiri yang mengumumkan bahwa Rizieq Shihab diizinkan pulang ke Indonesia.

Mahfud juga mengakui bahwa dirinya juga yang mengumumkan bahwa Rizieq Shihab boleh dijemput.

“Asal tertib dan tak melanggar protokol kesehatan. Saya juga yang minta HRS diantar sampai ke Petamburan,” kata dia.

Pemberian izin penjemputan, pengamanan dan pengantaran HRS dari bandara ke Petamburan itu disebut Mahfud menjadi diskresi pemerintah.

“Itu sudah berjalan tertib sampai HRS benar-benar tiba di Petamburan sore,” ujarnya.

Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian di Petamburan setelahnya, tegas Mahfud, sudah di luar diskresi yang diberikan.

“Tapi acara pada malam dan hari-hari berikutnya yan gmenimbulkan kerumunan orang sudah di luar diskresi yang saya umumkan,” tandas Mahfud.

Cuitan Mahfud itu lantas langsung dibalas Ridwan Kamil yang menyatakan bahwa baik pemerintah pusat maupun daerah memiliki tanggungjawab yang sama.

“Siap pak Mahfud. Pusat daerah harus sama-sama memikul tanggung jawab,” balas pria yang akrab disapa Kang Emil ini melalui akun Twitternya.

Emil lantas mempertanyakan kerumunan penjemputan HRS di Bandara Soekarno-Hatta yang menurutnya jelas-jelas berdampak kerugian sangat besar.

Akan tetapi, hal itu malah tidak pernah ditindak serta diproses secara hukum.

“Mengapa kerumunan di Bandara yang sangat masif dan merugikan kesehatan/ekonomi, tidak ada pemeriksaan seperti halnya kami berkali-kali?” katanya.

Emil juga mempertanyakan bahwa kenapa kepala daerah saja yang harus menanggung.

“Mengapa kepala daerah terus yang harus dimintai bertanggung jawab?” sambung Emil.

“Mohon maaf jika tidak berkenan,” tandas Ridwan Kamil. (rmol/pojoksatu/fajar)

Komentar


VIDEO TERKINI