Regulasi Rumit Ekspor Sulit

  • Bagikan

Semua bercita-cita besar menggeliatkan ekspor. Hanya, regulasinya rumit membuat ekspor menjadi sulit.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR -- Jadinya, pelaku ekspor itu-itu saja. Didominasi pengusaha besar. Sementara pengusaha kecil, Usaha Kecil Menengah (UKM) yang baru ingin merintis, mundur lebih dahulu.

Padahal ekspor yang besar bisa memberi banyak manfaat, mulai dari tambahan devisa negara, mengenalkan produk dalam negeri, dan meningkatkan lapangan pekerjaan.

Ketua DPD Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Sulselbar, Arief R Pabettingi, mengatakan, ada tujuh persoalan yang sering dihadapi pelaku ekspor. Kendalanya antara lain, minimnya kecukupan suplai bahan baku utama. Selain itu, kualitas, inovasi, dan produktivitas yang rendah. Biaya produksi, distribusi dan handling charges yang tinggi membuat komoditas ekpor Sulsel tidak kompetitif.

Banyaknya regulasi yang masih terpusat dan rumit juga ikut menjadi penghambat. Lalu buruknya kondisi infrastruktur, juga tingginya suku bunga bank. "Kalau dikerucutkan lagi, paling penting, regulasi, transportasi, dan inovasi," jelas Arief, Minggu, 20 Desember.

Pengusaha ekspor menghadapi banyak kementerian dan lembaga. Mulai dari kementerian pertanian, perkebunan, perdagangan, kelautan dan perikanan, perindustrian, karantina, bea cukai, dan lainnya.

Itu semua masing-masing punya aturan. Padahal, diharapkan bisa satu pintu saja untuk mengurus itu. "Contoh kita kirim rumput laut, dua kementerian yang menangani, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perdagangan. Jadinya tidak efisiensi dari segi waktu dan biaya. Begitupun dengan komoditas lainnya," katanya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan