Pria Indonesia Gegerkan Dunia, Jadi Predator Seks, Korbannya Capai 206 Orang

Selasa, 22 Desember 2020 14:45

Reynhard Sinaga saat keluar dari flatnya untuk mencari mangsa (The Guardian)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Januari 2020, dunia dikejutkan dengan kasus predator paling sadis yang dilakukan seorang pria Indonesia bernama Reynhard Sinaga.

Dia melancarkan aksi kejamnya di Inggris, tempat dirinya mengenyam pendidikan. Sasarannya yaitu pria, yang diperdaya olehnya dengan wajah polos dan di bawah pengaruh obat-obatan.

Reynhard Sinaga, seorang mahasiswa pascasarjana, 36, yang sedang menempuh studi di Inggris, terbukti memperkosa ratusan pria.

Para korbannya pun mengungkapkan berbagai cerita miris. Reynhard sudah selama lebih dari tujuh tahun tinggal di apartemen sewaan di Manchester. Hanya beberapa menit berjalan kaki dari Factory Nightclub, Manchester.

Reynhard Sinaga, berasal dari Indonesia dan sedang belajar untuk mendapatkan gelar doktor. Di Indonesia, Reynhard Sinaga mendapatkan gelar sarjana dari Universitas Indonesia. Tak disangka, di Inggris, Reynhard gemar ‘berburu’ korbannya pada malam hari.

Dia dinyatakan bersalah karena melakukan penyalahgunaan narkoba, memperkosa, dan melakukan pelecehan seksual terhadap ratusan pria.

Reynhard Sinaga biasanya mendekati korbannya di jalan. Dia beroperasi di daerah kecil di sekitar flatnya. Sasarannya adalah pria milenial berusia akhir belasan atau awal 20-an yang mabuk sering ke klub malam di dekat flatnya. Reynhard menggunakan berbagai dalih untuk membujuk masing-masing ke flatnya.

Beberapa korban dapat mengingat diberi minuman dan kemudian pingsan. Reynhard Sinaga menampilkan dirinya sebagai sosok akademisi flamboyan, alim, dan perlente. Tampangnya yang lugu itu tak disangka sudah melakukan kejahatan.

Akun media sosial korban menjelaskan bagaimana Reynhard Sinaga beroperasi. Salah satunya saat korban sedang menunggu pacarnya di luar klub malam Fifth Avenue. Lalu korban didekati oleh ‘pria Asia kecil’ yang tampak tidak berbahaya. Pria itu diundang ke flat Sinaga sambil menunggu pacarnya. Setelah itu, korban tidak ingat lagi. Korban diberi suntikan cairan bening untuk diminum.

Seorang korban lain menggambarkan bahwa didekati oleh seorang pria muda Asia. Korban mengatakan ingatannya samar-samar untuk menjelaskan. Baginya, Reynhard Sinaga ‘tidak tampak seperti karakter yang menakutkan’ dan selama percakapan mereka di apartemen, Reynhard Sinaga tampaknya seperti orang yang jujur dan cerdas.

Korban mengatakan kepada pengadilan bahwa segera setelah ditawari minuman, dia tidak dapat mengingat apapun sampai pagi Setelah bangun, bingung, korban pergi dalam lima menit. Korban tak tahu telah diperkosa sampai didekati oleh polisi.

Pakai Obat GHB

Dilansir dari BBC, GHB adalah narkotika kelas C yang dilarang sebagai obat cairan atau bubuk. Tidak berwarna dan tidak berbau, biasanya dilarutkan dalam air. Efeknya menghasilkan perasaan euforia dalam dosis yang sangat kecil. Dan dalam jumlah yang sedikit lebih banyak dapat menyebabkan ketidaksadaran dan bahkan kematian.

Digunakan oleh para clubbers atau dalam upaya pelanggaran seksual. Diperkirakan ada ribuan penyalahguna harus dirawat inap di rumah sakit setiap tahun. Akan tetapi statistik tentang penyalahgunaannya masih belum terdapat data yang pasti. Antara 2007 dan 2017 lebih dari 200 kematian dikaitkan dengan obat itu. Sejak 2014 obat tersebut juga digunakan sebagai senjata pembunuhan dalam lima kasus.

Dalam kasus Reynhard Sinaga, seorang korban yang meminum cairan itu terbangun dengan kondisi telanjang di lantai dengan perasaan mual dan panik. Sampai pada kesimpulan bahwa ia telah dibius, memberi tahu tunangannya tentang kecurigaan itu.

Laki-laki lain ingat bahwa pada satu kesempatan dia tidak dapat menggerakkan tangannya dan bisa merasakan dirinya pingsan. Di pagi hari, dia berbicara singkat dengan Reynhard Sinaga sebelum pergi.

Dalam laman Pusat Penelitian Penyalahgunaan Zat Terlarang Universitas Maryland, disebutkan GHB adalah depresan saraf pusat. GHB, juga dikenal sebagai G atau ekstasi cair. Sering ditemukan dan digunakan dalam lingkungan sosial, seperti pesta, klub, dan rave, untuk efek memabukkan, euforia, dan obat penenang.

GHB dapat mematikan ketika dikombinasikan dengan alkohol atau depresan lain. Banyak kasus pemerkosaan menggunakan obat ini. Maka juga dicap sebagai ‘obat klub’. Asosiasi ini mungkin telah mendorong pemerintah federal pada bulan Maret 2000 untuk mengklasifikasikan GHB sebagai zat yang keras. GHB yang dijual dipastikan adalah dilakukan secara ilegal.

Pengungkapan Kasus

Menurut Jaksa Penuntut Ian Rushton, Reynhard Sinaga adalah pemerkosa yang paling produktif.

Kasus tersebut awalnya terungkap dari rekaman yang ditemukan dari kamera CCTV yang menutupi blok apartemennya, ia terlihat pergi setiap malam hanya untuk kembali dengan seorang pria 60 detik kemudian.

Terakhir, pada 2 Juni 2017, ketika dia mendekati korban terakhirnya. Korbannya saat itu tidak ingat apa-apa lagi sampai bangun beberapa jam kemudian diserang secara seksual oleh Sinaga.

Sempat ada perlawanan saat itu. Pria itu memukul Reynhard Sinaga beberapa kali, melarikan diri dari flat, dan kemudian memanggil polisi. Dan Ternyata di dalam ponselnya tersimpan rekaman video asusila saat Sinaga memperkosa korbannya. Itulah cerita bagaimana kasus ini bisa terungkap.

Reynhard dinyatakan bersalah atas total 159 pelanggaran yang dilakukan antara Januari 2015 dan Mei 2017 dengan 136 tuduhan pemerkosaan, 13 tuduhan kekerasan seksual, 8 tuduhan percobaan perkosaan dan 2 tuduhan serangan melalui penetrasi. Totalnya diperkirakan ada 195 orang.

Masuk Penjara Paling Kejam

Hukuman paling berat sudah diterima predator dan pemerkosa pria di Inggris, Reynhard Sinaga. Sang predator yang menempuh studi di Inggris itu dipindah ke penjara paling sadis, di Wakefield Yorkshire Barat, pada April 2020.

Dia satu penjara bersama pembunuh berantai paling keji, Robert Maudsley. Dia adalah pembunuh berantai paling sadis yang dijuluki ‘Hannibal The Cannibal’. Kisahnya pernah diceritakan dalam sebuah film dokumenter TV seperti dilaporkan laman Examiner Live.

Robert Maudsley telah dikurung di sel isolasi di penjara itu selama lebih dari empat dekade. Pembunuh berantai itu dihukum seumur hidup. Dia tidak akan pernah dibebaskan.

Jaksa Naik Banding

Semula kantor Kejaksaan Agung mengkonfirmasi bahwa sanksi untuk Reynhard Sinaga terlalu lunak. Hakim pengadilan banding akan membuat putusan pada sidang banding, Kejaksaan mengonfirmasi bahwa mereka telah menulis surat kepada Kejaksaan Agung untuk meminta peninjauan hukuman, dengan mengatakan kasus itu belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Jaksa Agung, Geoffrey Cox QC MP, mengatakan dalam pernyataan setelah mempertimbangkan dengan seksama rincian kasus itu, pihaknya mengajukan banding. “Saya telah memutuskan untuk merujuk hukuman tersebut ke Pengadilan Banding,” jelasnya pada Januari 2020.

“Reynhard Sinaga melakukan sejumlah serangan yang mengerikan, dalam waktu yang lama menyebabkan rasa sakit dan penderitaan psikologis yang besar bagi para korbannya,” ujarnya.

Korban Bertambah, Hukuman Diperberat

Terbaru, pada Desember 2020, total korban kejahatan seksual oleh pria Indonesia di Inggris, Reynhard Sinaga, bertambah menjadi 206 orang. Para korban semakin banyak yang berani mengungkap dan melaporkan kejahatan sang predator pada polisi. Sehingga hukuman Reynhard Sinaga diperberat dari 30 tahun menjadi 40 tahun.

Reynhard dituntut lebih berat setelah para korban lainnya melapor dengan membuka kedoknya. Sebelumnya sang predator itu, dipenjara pada Januari setelah melakukan 136 pemerkosaan dan serangkaian serangan seksual terhadap 48 pria di pusat kota Manchester. Namun baru-baru ini, polisi mengatakan 154 pria berani melapor dengan merinci kejahatan mengerikan sang pemerkosa itu.

Dari jumlah tersebut, 23 telah diidentifikasi sebagai korban oleh detektif. Dengan laporan dan sikap berani para korban, membuat jumlah total korban menjadi 206 orang. Dan sekitar 60 di antaranya belum diidentifikasi.

Asisten Kepala Polisi Mabs Hussain, dari Polisi Greater Manchester menyambut baik keputusan itu karena hukuman untuk Reynhard diperberat. Hal itu akan memenuhi rasa keadilan bagi para korban yang akan mengalami trauma jangka panjang.

“Keberanian yang terus ditunjukkan para pria yang menjadi korban sungguh luar biasa. Kami terus menawarkan dukungan sebanyak mungkin kepada para korban dan membantu mereka dalam segala hal,” jelas ACC Hussain.

ACC Hussain mengatakan para penyelidik sekarang akan terus menyelidiki klaim terbaru yang dibuat terhadap Sinaga dan kemungkinan penuntutan lebih lanjut. “Setiap korban yang ingin maju untuk mendukung penuntutan, kami akan memastikan mereka memiliki pendampingan yang sesuai,” katanya.

“Hukuman diperberat mencerminkan keseriusan pelanggaran yang telah dilakukan. Kami senang bahwa banding telah dipertimbangkan dan kami akan terus melakukan segala yang kami bisa untuk mendukung para korban. Investigasi masih berlanjut,” tegas ACC Hussain. (JPC)

Komentar


VIDEO TERKINI