Banjir dan Pemimpin Kita

Rabu, 23 Desember 2020 14:37

Hasrullah

Oleh : Hasrullah

Banjir yang dialami masyarakat Makassar dipertengahan hingga akhir Desember 2020, bukan hanya karena cuaca ekstrem yang melanda kita, tapi juga faktor drainase yang tidak mampu lagi dialiri air hujan. Genangan air yang cukup dirasakan tidak hanya melanda pemukiman yang berdomisili di kecamatan Manggala, Kecamatan Biringkanaya, Kecamatan Panakukang yang ketinggian air satu-dua meter. Luapan air banjir juga menggenangi jalan utama protokol Kota Makassar.

Langganan banjir yang dihadapi Makassar, terletak bukan sepenuhnya faktor cuaca tetapi para pemimpin kita yang ada di Makassar tidak mempunyai pikiran yang jenius dan serius menyikapi banjir yang setiap tahunnya melanda kota terbaik yang ada di kawasan Timur Indonesia.

Sudah berkali-kali pergantian walikota Makassar, masalah banjir tidak pernah terselesaikan. Yang ada dibenak pikiran dan hasratnya bagaimana menjadi penguasa yang berikon Makassar berkota dunia. Seingat kita , saat kampanye Pilkada yang baru saja ditabuh, tidak satupun kandidat yang menyuarakan Makassar bebas banjir. Itu artinya, pemimpin kita menganggap banjir bukan hal yang utama. Terutama memprogram kota yang memang kota bebas banjir.

Akar masalah banjir terjadi di kota Makassar, itu terletak diotak atau dipikiran pemimpinnya. Kalau seandainya pemimpin mempunyai komitmen yang kuat dan menginginkan kota ini bebas banjir, maka pemimpin tersebut akan menjadikan banjir sebagai program staregis utama dan memberi jangka waktu dalam kepemimpinan bahwa banjir tidak akan menggenangi kota Angin Mammiri. Namun komitmen yang tinggi tidak muncul baik dalam visi-misi pemimpin kita. Kalau kota sudah banjir baru muncul ide dadakan yang cenderung sporadic dan tidak terencana. Itulah gambaran pemimpin kita di depan mata rakyat Makassar.

Bagikan:

Komentar