Kader Muhammadiyah Ajak Warga Tarik Dana dari Bank Syariah Indonesia, Ini Alasannya

Rabu, 23 Desember 2020 18:48

FAJAR.CO.ID — Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar konferensi pers terkait Bank Syariah Indonesia (BSI) pada Selasa, 22 Desember 2020. Dalam pernyataannya, Muhammadiyah meminta BSI tetap komitmen mengawal kepentingan kelompok usaha mikro kecil menengah (UMKM).

Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Makassar, Hasanuddin Andi Hadir menilai hal tersebut muskil dilakukan BSI, apatah lagi dengan mergernya ketiga bank syariah milik negara itu menjadikan BSI top 10 Bank Syariah terbesar di dunia.

Hasan menilai, akan semakin sulit BSI berpihak kepada kelompok usaha kecil.

“Sebelum merger saja, pihak dari bank-bank syariah tak mampu memenuhi 20 persen standar kucuran dana yang mesti dialokasikan untuk kepentingan UMKM,” tutur alumni Teknik UNM itu.

Lihat saja faktanya, lanjut Hasan, pada Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 17 tahun 2015 tentang UMKM menyatakan dunia perbankan harus mengalokasikan kredit dan pembiayaannya minimal 20% kepada UMKM.

Pada praktiknya, tahun 2015 hanya kurang dari 5%, tahun 2016 kurang kurang dari 10%, tahun 2017 kurang dari 15% dan tahun 2018 kurang dari 20%.

“Dalam amanat PBI di ujung tahun 2018, total kredit dan pembiayaan yang mesti dikucurkan minimal 20%, tetapi faktanya tahun 2019 hanya 19,1%,” papar Hasan, yang juga pelaku usaha mikro itu.

Senada dengan itu, Bendahara Nasyiatul ‘Aisyiah Kota Makassar, Sri Wahyuni Darsis mengimbau kepada segenap kader Muhammadiyah maupun warga persyarikatan agar menarik dana dari BSI.

Komentar