Umat yang Gaduh, Selamat Hari Natal!

Sabtu, 26 Desember 2020 14:09

Qasim Mathar. (int)

Oleh: M. Qasim Mathar

Dulu-dulu, polisi biasa diejek karena dianggap tidak tegas di dalam menegakkan disiplin dan aturan hukum. Polisi dinilai lemah. Membiarkan premanisme. Polisi kalah dari penjahat. Akibatnya, lahirlah gelar ejekan kepada polisi. Cara kerja polisi yang lemah menyebabkan polisi disebut “polisi melayu”. Kira-kira maksudnya untuk membedakannya dengan polisi dari bangsa lain, yang dinilai bekerja dengan profesional. Ada sebutan “polisi India”. Tentu untuk mengejek tindakan polisi yang selalu kalah cepat dari penjahat. Ya, di film India, polisi baru datang setelah kejahatan terjadi dan penjahatnya sudah hilang.

Sekarang-sekarang, ketika polisi bertindak tegas atas tindak kejahatan dan menggunakan wewenangnya untuk bertindak keras secara terukur yang berakibat korban, polisi dihujat dan diejek pula. Polisi dibilang menyalahgunakan wewenangnya. Polisi dikatakan melanggar HAM. Dulu-dulu dan sekarang-sekarang, polisi tidak benar. Atau, umat yang serba sembrono?

Sudah dulu-dulu presiden diharapkan sangat untuk me-reshuffle kabinetnya. Ganti beberapa menteri yang dinilai kinerjanya tidak becus. Harapan itu tidak segera dipenuhi oleh presiden. Presiden punya pertimbangan sendiri. Bukan tidak mendengarkan harapan tersebut.

Sekarang-sekarang, presiden mereshuffle kabinet dan melantik enam menteri baru. Mestinya bersyukur. Harapan sudah dipenuhi presiden. Faktanya masih ada yang ribut. Dulu-dulu, maunya agar presiden begini dan begitu. Sekarang-sekarang presiden sudah kerjakan ini dan itu. Untung presiden tidak pusing. Tetap bekerja, bekerja, dan bekerja. Yang kurang kerjaan, atau kerjanya kritik ini itu… mungkin umat, ya?

Komentar