Menag Diminta Persatukan Umat, Politisi Demokrat: Jangan Jualan Isu Radikal dan Intoleran

Minggu, 27 Desember 2020 16:18

Yaqut Cholil Qoumas

FAJAR.CO.ID — Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut dinilai bukan seorang yang revolusioner sebagai Menteri Agama (Menag). Penilaian itu disampaikan Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat, Syahrial Nasution.

Menurutnya, Gus Yaqut masih terjebak dalam permainan lama, yaitu sebatas menggoreng isu radikal dan terorisme.

“Menteri Agama baru masih jualan isu radikal, intoleran, dan terorisme. Bukan seorang revolusioner,” ujar Syahrial Nasution dalam akun Twitter pribadinya, Minggu (27/12).

Seharusnya, kata Syahrial, Gus Yaqut membuat gebrakan dengan menjadikan Kemenag sebagai sarana mempersatukan umat.

Salah satu contohnya adalah memobilisasi ide kelompok-kelompok umat beragama menghadapi Covid-19. Dengan begitu, toleransi yang ada bisa bermanfaat untuk Indonesia.

“Sorry, yang bersangkutan belum mempermudah persatuan bangsa ini ke depan,” tutupnya.

Seperti diketahui, pidato pertama Gus Yaqut di depan publik usai dipilih Presiden Jokowi jadi Menag adalah mengenai beberapa hal.

Gus Yaqut, sapaan Yaqut, bercita-cita menjadikan agama sebagai inspirasi, bukan alat untuk melawan pemerintah.

“Alhamdulillah, innalillahi wa innailaihi rajiun. Bapak-ibu sekalian, ketika pertama kali saya mendapatkan berita bahwa saya harus menerima amanah sebagai salah satu pembantu Bapak Presiden, Bapak Wakil Presiden, di kabinet ini sebagai Menteri Agama, tentu yang saya rasakan adalah kaget,” kata Yaqut dalam sambutan yang disiarkan YouTube Setpres, Selasa (22/12/2020). (PojokSatu)

Bagikan:
5
4
1

Komentar