Lonjakan Kasus, RS Rujukan Kewalahan Tampung Pasien

Senin, 28 Desember 2020 09:00

Petugas medis dan UPAS Dishub DKI Jakarta mengevakuasi pasien manula terkonfirmasi COVID-19 dari panti di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, menuju Rumah Sakit Umum Khusus Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (22/12) dini hari. Foto: ANTARA/HO-UPAS DKI

Persisnya libur nasional sekaligus cuti bersama pada 28 Oktober hingga 1 November lalu yang memicu kasus kembali meningkat. Saat itu, banyak warga yang melakukan perjalanan liburan ke luar kota.

Terlepas dari liburan, mulai banyak kegiatan masyarakat yang berangsur normal. Cenderung mengumpulkan massa dan berpotensi menciptakan kerumunan. Bahkan, banyak yang mengganggap bahwa kondisi sudah normal sehingga mengabaikan protokol kesehatan (prokes).

’’Kewaspadaan masyarakat mulai menurun,’’ ujarnya. ’’Mungkin sudah jenuh. Tapi, bagaimanapun juga pandemi ini belum selesai,’’ imbuhnya.

Koordinator Relawan Pendamping Keluarga Pasien Covid-19 RSLI Radian Jadid mengungkapkan, pasien baru banyak berasal dari klaster keluarga dan institusi. Pada akhir November sampai awal Desember saja, ditemukan ada 47 klaster keluarga.

Biasanya klaster tersebut muncul setelah mereka menggelar acara pernikahan, syukuran keluarga, hingga perjalanan ke luar kota untuk liburan atau bekerja. ’’Sekali datang (ke RSLI, Red) biasanya rombongan. Ada yang langsung berenam dan berempat. Ternyata satu keluarga itu positif semua,’’ tutur Radian.

Pihaknya juga menemukan sembilan klaster institusi. Seperti pondok pesantren, Poltek Pelayaran Surabaya, Pelni, hingga KONI Surabaya.

Awalnya, hanya ada satu orang yang terpapar. Virus kemudian menular ke orang lain melalui aktivitas pekerjaan di dalam perkantoran.

RSUD dr Soewandhi juga kewalahan menerima pasien baru. Bahkan, ketersediaan bed di rumah sakit rujukan milik Pemkot Surabaya itu sudah penuh.

Komentar