Polri Gerebek Markas Jamaah Islamiyah, Tempat Latihan Militer Calon Pimpinan Teroris

Senin, 28 Desember 2020 14:42

Polri, Gerebek, Markas, Jamaah Islamiyah, Latihan Militer ,Calon, Pimpinan, Teroris

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Polri kembali berhasil mengungkap aktivitas kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI). Setelah menangkap puluhan anggota JI di Lampung, kini Densus 88 Antiteror membongkar pusat pelatihan calon pimpinan JI di Desa Gintungan, Semarang, Jawa Tengah.

Kadivhumas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan, pusat pelatihan tersebut berada di sebuah vila yang digunakan untuk memberikan pembekalan militer sebagai salah satu program organisasi JI. Pelatihan itu bertujuan membentuk pasukan militer yang militan. ”Para rekrutan yang masih muda itu dilatih bela diri serta menggunakan senjata tajam seperti samurai dan pedang,” terangnya dalam keterangan tertulis kemarin (27/12).

Bahkan, ada pelatihan menggunakan senjata api, merakit bom, hingga keahlian perbengkelan. Berbekal pelatihan tersebut, anak-anak muda yang direkrut JI sangat mungkin dilatih menjadi ahli tempur dan sergap.

”Kelompok JI ini menyebutnya sebagai pasukan khusus dengan seragam khusus,” ungkapnya.

Salah seorang pelatih di pusat pelatihan JI tersebut adalah seorang terpidana kasus terorisme bernama Joko Priyono alias Karso. Karso tertangkap pada 2019 dan telah divonis hukuman 3 tahun 8 bulan penjara. Karso menjadi pelatih atas perintah Para Wijayanto, amir atau pimpinan JI yang juga telah tertangkap.

Para Wijayanto adalah amir JI yang berpengalaman mengikuti pelatihan militer di Moro, Filipina. Pelatihan itu diadakan kelompok Abu Sayyaf yang berafiliasi dengan Al Qaeda. Karena itu, kemampuan kelompok tersebut dalam merakit senjata dan bom tidak perlu dipertanyakan.

Para Wijayanto alias Abang alias Aji Pangestu telah divonis tujuh tahun penjara. Dia terbukti terlibat dalam sejumlah aksi teror. Yakni, Bom Bali, bom Natal, dan bom Kedubes Australia. Bahkan, dia terlibat dalam kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah. Dengan terungkapnya pusat pelatihan militer JI tersebut, polisi menduga Para Wijayanto sedang berupaya membangun jaringan baru JI. ”Ini pengaderan,” katanya.

JI telah meluluskan tujuh angkatan pelatihan militer dengan jumlah 96 orang. Setiap angkatan berisi 10–15 orang. Proses rekrutmen memiliki sejumlah persyaratan. Salah satunya, para kader JI yang umumnya remaja itu harus meraih ranking I hingga X di tempat belajarnya. ”Artinya, yang dipilih itu anak-anak yang cerdas,” ujarnya.

Sebab, mereka yang lulus pelatihan militer disiapkan menjadi calon pimpinan JI pada masa depan. Sebelum menjadi pimpinan JI, mereka dikirim ke Syria.

Di negara yang pernah bergejolak akibat perang antara ISIS dan sejumlah faksi tersebut, kemampuan tempur rekrutan JI itu dimatangkan. ”Pendalamannya di Syria,” terang Argo.

Pengiriman anak muda JI tersebut dilakukan pada periode 2013–2018. Pendanaannya juga telah disiapkan JI. Kelompok terlarang JI terafiliasi dengan Al Qaeda yang kini telah bereinkarnasi menjadi Jabhat Al Nusra. Kelompok tersebut merupakan musuh ISIS. Meski, di mata dunia, mereka sama-sama kelompok teroris.

Terkait dengan pendanaan JI pimpinan Para Wijayanto ini, Densus 88 juga menangkap petinggi subbidang pengorganisasi pengusaha yang berinisial AYM di Sentul pada Rabu (18/12). AYM tercatat pernah menjabat sekretaris III Aliansi Nasional Anti-Syiah Bogor. AYM bertugas mengumpulkan donasi dari para pengusaha. Hasil donasi itu diduga digunakan untuk mengirim alumnus pusat pelatihan ke Syria.

Sementara itu, pengamat terorisme Al Chaidar menjelaskan, pengungkapan tersebut memperkuat dugaan bahwa JI memang jauh lebih terorganisasi ketimbang Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS. Dia menyatakan bahwa anggota-anggota JI memiliki kelas yang lebih tinggi dalam melakukan aksi teror.

”Mereka memiliki pengalaman karena pernah ikut perang Afghanistan,” ungkapnya.

Bila aksi teror dilakukan kelompok JI, bisa jadi bom semacam Bom Bali akan kembali terjadi. High explosive yang memakan begitu banyak korban. Tentu saja aksi keji semacam itu harus dicegah. Menurut dia, langkah Polri dalam mengungkap kelompok JI perlu diapresiasi. Sebab, dengan penangkapan yang bersifat pencegahan tersebut, Natal berjalan aman dan damai. ”Kita perlu apresiasi kemampuan Polri,” tuturnya.

Selain itu, Chaidar menegaskan, selama masih ada Al Qaeda atau Jabhat Al Nusra dan ISIS, kelompok teror di Indonesia masih bisa bermunculan. ”Karena memang ini pengaruh dari luar,” jelasnya.

Jabhat Al Nusra dan ISIS memiliki perbedaan yang mencolok. Salah satunya, Al Qaeda berpandangan haram untuk menyakiti muslim, sedangkan ISIS lebih liar. ISIS tidak hanya menyerang warga asing, tetapi juga menyerang muslim yang berbeda aliran. ”Al Qaeda berupaya menghindari korban dari muslim,” katanya.

Sementara itu, kabar tentang terungkapnya pusat pelatihan JI membuat warga Gintungan, Kecamatan Bandungan, geger. Warga tidak pernah curiga dengan aktivitas di vila tersebut. Ketua RW 5 Gintungan Rukiman mengungkapkan bahwa vila yang disebut sebagai tempat latihan itu selama ini terlihat sepi seperti jarang disewa. Namun, beberapa kali ada aktivitas anak sekolah yang menyewa. Ada juga anak punk atau komunitas anak jalanan yang memanfaatkan vila tersebut untuk bakti sosial. ”Kami tidak tahu ada aktivitas teroris. Terus terang kaget saat mendengar kabar tersebut,” ucapnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Semarang kemarin.

Menurut dia, selama pandemi Covid-19, vila-vila di kawasan Gintungan sepi penyewa. Rukiman mengungkapkan, selama menjabat ketua RW, dirinya baru sekali dimintai izin terkait dengan aktivitas di vila.

”Izinnya saat anak-anak jalanan bikin acara santunan itu. Selebihnya tidak pernah. Warga juga kurang tahu mengenai aktivitas di vila,” lanjutnya. Apalagi, penjaga vila tersebut meninggal beberapa waktu lalu. (JPC)

Komentar


VIDEO TERKINI