Ni’matullah: Penanganan Jenazah Covid-19 Model WHO di Luar Logika Normal

Rabu, 30 Desember 2020 21:23

Ni'matullah

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Virus Corona telah menginfeksi ratusan ribu orang di Indonesia. Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, kasus positif bertambah 8.002 pada Rabu (30/12/2020).

Sehingga, total kasus positif mencapai 735.124. Jumlah pasien yang meninggal akibat terpapar virus ini pun terus bertambah, mencapai angka 21.944.

Ironisnya, di tengah kondisi ini justru terus bermunculan penolakan warga terhadap pemakaman jenazah penderita Covid-19. Tak heran, masyarakat menganggap situasi ini seperti layaknya teror menakutkan.

Wakil Ketua DPRD Sulawesi Selatan, Ni’matullah, melontarkan kritik tajamnya terkait protokol penanganan jenazah Covid-19 yang dianggapnya di luar logika normal. Ia menilai dalam hal penanganan jenazah Covid-19, pemerintah mengikuti perintah WHO tanpa verifikasi. Mengapa demikian?

“Sejak 5 bulan lalu sudah saya suarakan termasuk di media sosial soal protokol penanganan jenazah Covid-19. Saya katakan, pemerintah ikuti instruksi WHO tanpa verifikasi,” ujar Ni’matullah kepada fajar.co.id, saat ditemui di Gedung DPRD Sulsel, Makassar, Rabu (30/12/2020).

Contoh soal penanganan jenazah Covid-19 di Indonesia yang mengikuti instruksi WHO. Menurutnya, itu teror bagi rakyat. Orang sakit tidak mau ke rumah sakit karena takut di covid-kan. Karena kalau meninggal dia tidak akan ketemu lagi dengan keluarganya. Padahal untuk memverifikasi itu sebenarnya merupakan pekerjaan mudah.

“Jika memang dokter peka, begitu orang itu meninggal ambil dropletnya atau cairan liurnya lalu simpan di laboratorium. Dua jam kemudian ambil lagi cairan tubuhnya. Kemudian itu diteliti, berapa jam virus itu aktif ketika orang sudah meninggal,” gumamnya.

Menurut logikanya, jika virus yang sebelumnya ada pada jenazah penderita covid-19 akan musnah dengan sendirinya karena tidak ada sel inang yang dihinggapi. Virusnya akan mati jika lama tidak masuk ke inang yang baru.

“Dalam pelajaran biologi dasar, virus itu tergantung inang. Kalau inangnya tidak aktif, maka dia juga tidak aktif. Karena virus itu bukan benda hidup. Perkiraan saya 4 jam. Itu sudah mati virusnya,” jelas Ketua Partai Demokrat Sulsel itu.

“Karena teorinya, jika virus itu menempel di benda mati, 2-4 jam akan mati. Anggaplah virus di jenazah, mati setelah 6 jam. Bikin lah protokol setelah 7 jam meninggal, setelah pemulasaran, disemprot disinfektan, boleh diambil itu jenazah oleh keluarganya. Kalau ini kan, tidak. Instruksi WHO diikuti mentah-mentah tanpa verifikasi,” lanjutnya, lugas.

Selain itu, Ni’matullah juga merasa heran mengapa jenazah Covid-19 harus dibungkus dengan plastik, padahal jenazah itu mau dikuburkan atau ditanam dalam tanah.

“Lalu untuk apa dibungkus plastik, padahal jenazah itu mau dikubur. Kalau dianggap masih menularkan, apakah itu virus bisa jalan-jalan dalam tanah. Kalau pun menular, kan yang ditularkan sama-sama orang mati di dalam tanah. Ini tidak masuk akal,” ketusnya lagi.

Padahal, kata dia lagi, sebelum pandemi Covid-19 pemerintah begitu getol mengampanyekan ramah lingkungan dengan non plastik di berbagai sektor. Termasuk di sejumlah mini market harus menyediakan tas belanja khusus non plastik demi menyukseskan kampanye ramah lingkungan tersebut.

“Bayangkan, sebelum pandemi kita galakkan kampanye non plastik karena tidak terurai di tanah maupun di air selama puluhan tahun. Sehingga mini market pun menyediakan tas khusus demi menghindari plastik. Sekarang dilupakan semua kampanye lingkungan itu. Tidak konsisten sekali kita menyikapi ini semua,” pungkas Ni’matullah, heran. (endra/fajar)

Bagikan berita ini:
7
1
1
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar