Stunting pada Anak Memprihatinkan, Tingkatkan Risiko Obesitas dan Penyakit Lain

Rabu, 30 Desember 2020 21:06
Belum ada gambar

FOTO: ISTIMEWA

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Masalah gizi kurang masih menjadi perhatian utama di berbagai negara, terutama pada kelompok balita. Padahal, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama.

Sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.

Dampak yang ditimbulkan stunting cukup memprihatinkan dan dapat dibagi menjadi dampak jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek dapat terjadi peningkatan kejadian kesakitan dan kematian, terhambatnya perkembangan kognitif, motorik, dan verbal pada anak tidak optimal yang dapat meningkatkan biaya kesehatan.

Sedangkan untuk dampak jangka panjang yang dapat terjadi yaitu postur tubuh anak stunting yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek dibandingkan pada umumnya, dapat meningkatkan risiko obesitas dan penyakit lainnya, menurunnya kesehatan reproduksi, performa dan kualitas belajar yang kurang optimal saat masa sekolah sehingga melahirkan manusia yang kurang produktif dan kapasitas kerja yang tidak optimal.

Menurut data Riskesdas, presentasi prevalensi stunting di Indonesia : yakni pada tahun 2007 sekitar 36,8%, dan menurun pada tahun 2010 berjumlah 34,6%. Pada tahun 2013 angka stunting kembali meningkat yakni 37,2% dan kembali turun pada tahun 2018 yakni 30,8% serta mencapai 27,7% di tahun 2020 dan adanya target percepatan penurunan angka stunting mencapai 14% di tahun 2024.

Bagikan berita ini:
8
4
3
Tetap terhubung dengan kami:

Komentar