Tingkatkan Produksi Cabai dari Pekarangan Rumah

POTENSIAL. Bupati Wajo, Amran Mahmud (pakai topi) didampingi Kepala DPKP Wajo, Muhammad Ashar (baju hitam) saat meninjau kawasan tanaman cabai rawit di Desa Lowa Kecamatan Tanasitolo. IMAN SETIAWAN P/FAJAR

SENGKANG, FAJAR — Produksi komoditas cabai rawit di Kabupaten Wajo diprediksikan terus meningkat. Caranya dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Wajo, Muhammad Ashar mengatakan, dari sejumlah tanaman sayuran di wilayah Wajo, komoditas cabe rawit merupakan andalan.

Karenanya, tumbuhan dengan nama ilmiah Capsicum annuum ‘bird’s eye’ ini, memberikan hasil produksi sangat tinggi setiap tahunnya. Peningkatannya menonjol, tiga sampai lima kali lipat. “2018 lalu hasil produksi hanya 6.583 kwintal (kw). Kemudian 2019 meningkat pesat sebanyak 24.128 kw,” ujarnya, Senin, 28 Desember.

Ashar menambahkan, melonjaknya hasil produksi dari tanaman memiliki rasa pedas tersebut, disebabkan adanya pemanfaatan lahan tidur oleh petani cabai. Di antaranya pekarangan rumah. “Di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Bila di jalan poros Belawa – Lajokka. Pekarangan rumah warga ditamani cabai rawit. Itu sangat berkontribusi dalam peningkatan produksi,” sebutnya.

Untuk pemasarannya, lanjut Ashar. Komoditas cabai rawit Wajo dipasarkan ke sejumlah wilayah. Baik dalam dan luar Sulawesi. “Terjauh, cabai rawit Wajo dijual ke pulau Kalimantan, Jawa, dan Sumatera,” imbuhnya.

Menyikapi hal itu, Bupati Wajo Amran Mahmud menyampaikan, selain mudah ditanam, harga juga menjadi alasan sehingga banyak petani berminat menanam cabai rawit. “Sekarang harga cabai mencapai Rp30ribu per kilogram. Ini yang mendorong petani. Harga sekarang bagus, bahkan tahun 2019 lalu pernah mencapai Rp58ribu. Harga tertinggi,” kuncinya.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR