Beredar Data Ponpes Afiliasi FPI di NTB, Politisi Demokrat Datangi Polda

Jumat, 1 Januari 2021 15:15

Front Pembela Islam (FPI)

FAJAR.CO.ID, MATARAM – Data Pengurus Front Pembela Islam (FPI) beserta ponpes afiliasi FPI di Nusa Tenggara Barat (NTB) beredar di media sosial dan grup WhatsApp.

Data berformat PDF itu berkop surat Direktorat Intelijen dan Keamanan (Dit Intelkam) Polda NTB.

Data itu mengungkap daftar pengurus FPI NTB, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, dan organisasi yang pro dan kontra dengan FPI.

Data itu memetakan jaringan FPI di tingkat provinsi hingga sepuluh kabupaten dan kota di NTB.

Salah satu tokoh yang disebut dalam data itu yakni Ketua DPD Partai Demokrat NTB, Mahally Fikri. Ia disebut memiliki hubungan erat dengan FPI.

Mahally pun tak tinggal diam. Ia langsung mendatangi Polda NTB untuk memberikan klarifikasi.

“Saya sudah bertemu dengan AKBP M Yunus Junaidi salah satu Kasubdit di Dirintelkam dan Kompol Lalu Sugiartha yang tanda tangannya tertera di dalam data beredar itu,” kata Mahally seperti dikutip dari Lombok Post, Selasa (29/12).

Dari penjelasan polisi, Mahally mendapat kepastian bahwa data yang beredar itu hoaks.

“Data itu sangat meresahkan dan tegas dijawab bahwa data itu tidak benar,” tuturnya.

Dia mendapat penjelasan dari pihak Dirintelkan Polda NTB bahwa mereka tidak memiliki data seperti itu.

“Kata Kompol Lalu Sugiartha data itu hoaks dan tanda tangan beliau di-scan,” imbuhnya.

Mahally lantas menyampaikan harapan pada pihak Direktorat Intelkam Polda NTB agar mengklarifikasi data itu. Mengingat data yang beredar menggunakan kop Direktorat Intelkam Polda NTB.

“Agar masalah ini tidak membias ke mana-mana, tidak merugikan bersama (yang dicatut mananya),” ujarnya.

Mahally menuturkan harapan itu telah disanggupi.

“Dalam waktu dekat ini (akan ada konfrensi perss),” pungkasnya.

Kabid Humas Polda NTB Kombes Artanto menegaskan bahwa data tokoh dan ponpes afiliasi FPI yang beredar di medsos itu hoax.

”Itu bukan data yang diterbitkan oleh Dit Intelkam,” tegas Artanto melalui pres release, Rabu (30/12).

Diakui, beredarnya data tersebut dapat meresahkan dan mengganggu situasi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (harkamtibmas). Saat ini tim cyber crime Polda NTB sedang mendalami kasus tersebut.

”Jadi, itu hoaks. Sekali lagi, data yang beredar secara masif itu saya pastikan dan nyatakan sebagai data hoaks, bukan bersumber dari Dit Intelkam Polda NTB dan saat ini sedang didalami Tim Cyber Crime,” tegasnya.

Ia mengingatkan kepada seluruh masyarakat NTB untuk bijak bermedsos. Setuap informasi yang masih belum jelas kebenarannya agar difilter (menyaring).

”Karena terkadang apa yang kita share di medol itu berdampak tidak atau kurang baik, bahkan juga bisa mendatangkan petaka bagi orang lain,” ujarnya.

(one/pojoksatu)

Komentar