Catatan Kecil dalam Rangka Penyiapan Lahan Lanud Wamena

  • Bagikan

Oleh: Letkol KAL M. Taha, SE

PAPUA yang merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki luas daratan lebih luas ketimbang lautnya. Tentunya, mengharuskan butuh mobilitas tinggi melalui udara dibanding melalui laut maupun daratan. Mobilitas tersebut, demi pemenuhan kebutuhan masyarakatnya, selain dari yang utama adalah menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Perlu diketahuui, sejak Konferensi Meja Bundar (KMB) (bahasa Belanda: Nederlands-Indonesische rondetafelconferentie) adalah sebuah pertemuan yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda, dari 23 Agustus hingga 2 November 1949 antara perwakilan Republik Indonesia, Belanda, dan BFO (Bijeenkomst voor Federaal Overleg), yang mewakili berbagai negara yang diciptakan Belanda di kepulauan Indonesia. Hingga saat ini, belum bisa dikatakan sepenuhnya aman, dibanding dua daerah yang lainnya, yang sempat bergolak, yakni Aceh dan Timor Timur.

Aceh sudah bisa dikendalikan melalui perjanjian damai dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), sedang Timur Timur (Timtim) yang dulunya merupakan provinsi ke-27, kini sudah lepas dari NKRI dan menjadi negera tersendiri dengan nama Timor Leste melalui referendum.

Papua yang dulunya dibebaskan melalui pembebasan Irian Barat dengan Operasi Mandala pimpinan Kolonel Soeharto (Presiden RI ke-2), setelah jatuh ke pangkuan RI menjadi Provinsi Irian Jaya. Kini menjadi dua provinsi dengan nama Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

Status Papua (Irian Barat) berbeda dengan Timor Timur. Timor Timur (Timor Leste) masuk menjadi bagian Republik Indonesia melaui integrasi setelah ditinggalkan Portugis yang menjajahnya. Sementara Irian Barat, sama dengan daerah lainnya di Indonesia, yang direbut dari penjajah Belanda. Sehingga, ketika meminta referendum seperti Timor Leste, tidak bisa dipenuhi.

Makanya, hingga saat ini, pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI) terus melaksanakan Operasi Militer, baik melalui Operasi Perang maupun Operasi Keamanan, menghadapi pasukan Operasi Papua Merdeka (OPM). Bahkan hingga saat ini, pihak TNI termasuk pelibatan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) terus melakukan pengejaran dan masih sering kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang tak lain adalah nama lain dari OPM.

Untuk mengatasi pergerakan KKB ini, membutuhkan mobilitas tinggi melalui udara. Sebab, kondisi wilayah Papua yang sangat luas, dengan jalur darat yang belum maksimal, tentu sangat sulit menangkap atau menghentikan pergerakan KKB tersebut, yang melakukan siasat “gerilya”. Habis menyerang, langsung masuk hutan.

Sekaitan dengan digulirkannya wacana membentuk Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Wamena, Jayawija, Papua, sungguh sangat tepat. Hal ini sesuai dengan Keberadaan TNI AU yang merupakan Alat Tempur Utama dalam menjaga dan mengawal Negara sesuai Amanat UU 5 TNI No.34 Tahun 2004.

Sebagaimana diketahui bahwa tugas pokok TNI AU melaksanakan tugas TNI Matra Udara di bidang Pertahanan, menegakkan hukum dan menjaga Keamanan di wilayah Udara Yuridiksi Nasional, melaksanakan tugas TNI dalam pembangunan dan pengembangan Matra Udara dan Melaksanakan pemberdayaan Wilayah pertahanan udara.

Pada kesempatan ini, sebagai bahan informasi dan masukan kepada Pimpinan agar mendapatkan data informasi kondisi riil yang ada, dalam rangka Penyiapan Lahan Lanud Wamena Jayawijaya Papua. Di sana masih merupakan Detasemen Wamena, yang dipimpin Komandan Detasemen Letkol Pnb Kholik . Detasemen Wamena merupakan pelaksana operasional seluruh dukungan angkutan udara, baik dukungan operasi maupun dukungan Logistik yang di bawah kendali Komando Operasi TNI Angkatan Udara (Koopsau) III Biak, guna mendukung tugas TNI /TNI AU.

Sekadar diketahui, Tugas Pokok Koopsau III yang membawahi Wilayah Timur Indonesia, di antaranya; Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua sebagai jembatan dan penghubung angkutan udara dalam rangka kemajuan dan percepatan pembangunan wilayah Timur Indonesia yang lebih khusus wilayah Papua, di mana Wamena merupakan pintu masuk dan sentral kegiatan di Pegunungan Tengah yang menopang 8 (delapan) kabupaten pemekaran.

Letkol Kal M Taha, SE

Peran Strategis Detasemen Wamena yang mulai dari awal hingga saat ini tidak dapat dipungkiri, betapa besar kontribusi dukungan angkutan udara melalui Pesawat Hercules, Boeing, maupun CN, guna mendukung percepatan pembangunan di wilayah Papua dan seluruh dropping material dan Logistik baik bahan pokok (bapok), bahan material (bama), dan dukungan angkut personel masyarakat sehingga masyarakat Papua betapa dekat dengan “Bapak Hercules”. Ke depan, “Bapak Hercules” bisa hadir di tengah masyarakat Papua, khususnya di Wamena sebagai sentral untuk menopang 8 kabupaten di Pegunungan Tengah.

Sejalan dengan ini, beberapa Tokoh Masyarakat maupun Tokoh Adat beraharap dan siap mengawal, penyiapan Lahan dan Apron Lanud Wamena agar dipercepat, di antaranya; Ketua DPRD Jayawijaya, Matius Kogoya, Wakil Ketua Kosai dan Heron Huby, Tokoh Pemuda, Fred Huby, maupun Ketua Gapensi Liber Wamo. Tak ketinggalan Tokoh Pendatang yang merupakan pengusaha di Papua maupun di Wamena, di antaranya Hamadi, H. Hamim, dan H. Karim.

Hingga saat ini, tim penyiapan lahan Lanud Wamena sudah bekerja maksimal dan sudah menemukan lahan utuk diajukan ke tingkat pusat. Bahkan Pangkoopsau III Marsda TNI Ir. Novyan Syamyoga, M.Sc, sudah mendapatkan Lampu Hijau dari Menteri Perhubungan dan segera ditindaklanjuti ke Dirjen Perhubungan Udara.

Makanya, diharapkan semua pihak, agar Kendala di lapangan dapat disinergikan dengan komunikasi dan koordinasi yang baik dengan melibatkan semua stakeholder, agar kearifan lokal dapat terjaga dengan baik sehingga penyiapan lahan dan Apron Lanud Wamena dapat berjalan dengan lancar dan aman sesuai yang diharapkan.

Dengan komunikasi dan koordinasi yang baik semua pihak, untuk kepentingan NKRI, khususnya wilayah Pegunungan Tengah, agar sinergitas tetap terjalin dan terjaga dengan baik.

Diharapkan dengan sangat, pimpinan pusat hingga pimpinan daerah, demi kepentingan masyarakat, lebih fokus memprioritaskan pengembangan Detasemen Wamena menjadi pangkalan Udara Wamena sehingga Tugas Pokok TNI Angkatan Udara dalam rangka, menjaga keutuhan wilayah NKRI dan lebih khusus percepatan pembangunan di wilayah Papua sehingga dapat dirasakan dan dinikmati oleh generasi saat ini maupun generasi yang akan datang.

Sekadar diketahui, Papua memiliki Sumber Daya Alam (SDA) yang sangat kaya dan itu memerlukan penjagaan dan pemeliharan sebagai asset Negara. Tambang emas bukan hanya di Preefort melainkan hampir di setiap kabupaten dan kampung, memiliki kandungan emas. Tinggal bagaimana pengelolaan dengan baik sehingga bisa dinikmati masyarakat, khususnya yang punya hak ulayat. Damai dan Sejahtera Papua. (*)

Letkol Kal M Taha, SE, Pabandya Simak BMN Slog Kohanudnas Jakarta. Saat ini, sebagai salah seorang anggota Tim Penyiapan Lahan Lanud Mamena Jayawijaya.

Dapatkan berita terupdate dari FAJAR di:
  • Bagikan