Harga Kedelai Melambung, Begini Respons Menteri SYL

Senin, 4 Januari 2021 18:07

Menteri Pertanian, Syahrul yasin Limpo. (Twitter @Syahrul_YL)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Kementerian Pertanian (Kementan) menyampaikan, pemerintah akan menggenjot produksi dan ketersediaan kedelai dalam negeri. Hal itu mengingat kebutuhan kedelai di Indonesia secara nasional mencapai lebih dari 2 juta ton per tahun.

Hingga saat ini Indonesia masih bergantung pada impor dari Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Malaysia karena produksi dalam negeri masih minim.

Ketergantungan impor dalam pemenuhan kebutuhan kedelai membuat Indonesia harus mengikuti harga di pasar global. Saat ini, harga kedelai mengalami lonjakan drastis yang membuat tahu dan tempe terpaksa ikut naik.

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pemerintah saat ini sedang mempersiapkan berbagai upaya untuk menggenjot produksi kedelai dalam negeri. Sebab, untuk memenuhi kebutuhan kedelai yang tinggi perlu kekuatan dari produksi lokal.

“Ini menjadi pelajaran yang penting untuk kita semua sehingga kekuatan lokal dan nasional harus menjadi jawaban dari kebutuhan itu,” ujarnya di kantornya, Senin (4/1).

Meskipun demikian, Syahrul mengaku, dalam menyelesaikan persoalan tersebut tidak dapat dilakukan dengan instan. Menurutnya paling cepat dapat diselesaikan dalam 200 hari atau sekitar 6 bulan.

“Ini dua kali 100 hari bisa kita sikapi secara bertahap sambil ada agenda seperti apa mempersiapkan ketersediaannya, bukan cuma harga, ketersediaan yang penting. Tentu saja bekerja sama dengan kementerian lain,” tuturnya.

Namun, sayangnya, dirinya tidak menjelaskan secara rinci terkait langkah apa dalam mendorong produksi dalam negeri. Sebab, Ia ingin segala hal akan diselesaikan langsung di lapangan.

“Saya tidak mau janji dulu karena saya lagi kerja. Dan Insyaallah dari agenda-agenda yang kita siapkan hari ini mudah-mudahan ini bisa menjadi jawaban. Tentu saja tidak semudah membalikkan telapak tangan. tetapi ini menjadi jawaban dalam kontraksi-kontraksi yang ada,” ucapnya.

Syahrul mengingatkan, persoalan kenaikan harga kedelai ini bukan hanya terjadi di Indonesia, namun juga di negara lain. Dengan demikian, cara menanganinya adalah dengan melaksanakan rencananya itu dengan bersinergi antar kementerian atau lembaga terkait.

“Di Argentina misalnya juga terjadi polemik-polemik terhadap kedelai itu. Tapi apa yang kami lakukan hari ini adalah kami sudah bertemu jajaran pertanian, melibatkan integrator dan juga unit unit kerja lain dari kementerian dan pemerintah daerah untuk mempersiapkan kedelai kita lebih cepat,” tutupnya.(jpg/fajar)

Komentar