Harga Kedelai Melambung, Produsen Tempe Terancam Gulung Tikar, Konsumen Menjerit

Senin, 4 Januari 2021 20:06

Produsen tahu dan tempe di Gowa

FAJAR.CO.ID, GOWA – Bumbuman asap putih disertai hawa panas di dalam pabrik pembuatan tempe, seakan menjadi pemandangan sehari-hari pelaku usaha mikro di Indonesia.

Seperti itulah yang dialami oleh pemilik pabrik tahu dan tempe di Jalan Swadaya, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulsel. Namanya Suarni.

Tetesan keringat yang ia curahkan sudah tak sebanding dengan hasil yang ia terima. Harga bahan pokok tempe melejit, wanita berusia 40 tahun ini pun menjerit. Imbasnya, Laba merosot tajam.

Harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe menyentuh di kisaran harga Rp9.600 per kilogram, dari sebelumnya hanya Rp7.000 per kilogramnya.

Atas kenaikan itu, usahanya rumahannya itu terancam bangkrut. Seluruh karyawannya pun terancam menganggur.

“Karena ini kebutuhan bahan pokoknya naik, kami memiliki empat orang karyawan. Kalau harganya naik terus bisa saja untuk sementara ditutup,” kata Suarni, Senin (4/1/2021).

Agar tidak sampai gulung tikar, jumlah produksi tempe miliknya dikurangi agar tak membuat biaya produksi semakin membengkak.

“Produksi bulan lalu sekitar 750 kilo per hari. Untuk sekarang ini industri rumahan ini hanya memproduksi 400 kilo per harinya,” jelasnya, dengan ucapan keluh kesah.

Suarni pun takut jika seandainya harga kedelai semakin naik dan menyentuh harga Rp10 ribu per kilogram. Dampak itu tentu tidak hanya dia saja yang rasakan. Tetapi pedagang kaki lima dan para ibu rumah tangga (IRT).

Komentar