Pengrajin Tahu Tempe Menjerit

Selasa, 5 Januari 2021 08:10

Foto: pixabay

FAJAR.CO.ID,WONOSOBO – Harga kedelai melambung, pengrajin tahu dan tempe di kabupaten wonosobo menjerit. Bahkan tiga hari yang lalu mereka berhenti produksi, lantaran tidak ada kepastian harga bahan baku. Harga kedelai melonjak hingga Rp.9.300 per kilogram, dan terus berubah setiap harinya.

“ ini baru kembali berproduksi, tiga hari lalu kita ikut mogok tidak produksi, untuk menyesuaikan harga, karena harga kedelai sudah diatas Rp.9 ribu per kilogram,” ungkap Fahrurozi (55), pengrajin tempe dan tahu asal Desa Bumiroso Kecamatan Watumalang kemarin.

Menurutnya, kenaikan harga kedelai selama tahun 2020 ini sudah terjadi dua kali, pertama pada awal pandemic covid 19 dan kedua pada penghujung tahun 2020. Hal tersebut sangat mengganggu produksi tahu dan tempe yang menjadi mata pencaharian sebagian besar warga desa bumiroso.

“ sudah dua kali dalam setahun, kenaikan itu sangat berpengaruh, menjadikan para pengrajin susah menentukan harga, khan tidak bisa langsung kenaikan harga itu diterima oleh konsumen,” katanya seperti dikutip dari Magelang Ekspres (Fajar Indonesia Network Grup).

Jika harga kedelai sebagai bahan baku utama tidak stabil, berdampak kuat pada ada produksi tahu, sebab prosesnya yang agak susah, ukurannya sudah diatur sedemikian rupa. Berbeda dengan produksi tempe, lebih mudah diatur.

“ sebelum ada kenaikan harga tahu per eblek dari Rp.60 ribu, kemudian di awal pandemic dampak dollar naik menjadi Rp. 5 ribu dan sekarang per eblek menjadi Rp. 70 ribu, dan harga itu sudah menjadi kesepakatan bersama.” katanya.

Komentar