Petani Jahe Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar yang Tinggi

Permintaan jahe sangat tinggi. Sayangnya, kemampuan petani di Bone memenuhi permintaan konsumen ini sangat terbatas.

FAJAR.CO.ID, BONE — Permintaan jahe sangat tinggi. Sayangnya, kemampuan petani di Bone memenuhi permintaan konsumen ini sangat terbatas.

Empat desa di Kecamatan Libureng yang menjadi sentral pemasok jahe yakni Baringeng, Tompobulu, Ponre, dan Mario masih sulit untuk memenuhi permintaan pasar.

Salah seorang pembudidaya Jahe, Hasrul Harahap mengaku, budidaya jahe di Libureng awalnya belajar dari Maros sekitar tahun 2013. Itu masih dengan jumlah kecil. Nanti 2018 di Desa Baringeng melakukan penanaman dengan jumlah besar. Ada menanam 500 kg, ada pula 1 ton.

Kata dia, pasaran jahe ini akses pangsung dari Jakarta, Pontianak, dan Surabaya. Sekali pengiriman minimal 30 ton. Harga jahe per kgnya itu Rp32 ribu, sedangkan untuk harga pengiriman Rp25 ribu.

“Permintaan tinggi sekali. Pasar Surabaya tidak bisa dipenuhi permintaannya. Jadi minimal satu kontainer pengiriman,” katanya ke FAJAR Selasa (5/1/2020).

Hasrul menerangkan, untuk memenuhi permintaan pasar itu banyak petani yang diajak untuk beralih tanam jahe. Hasilnya pun sekira 200 hektare ditanami jahe. Apalagi, proses kerjanya tidak ribet, tidak banyak tahapan. Tidak perlu dijemur dan melalui pabrik, bahkan tidak butuh banyak tenaga. Bibit juga dari petani semua.

“Petani berani karena kalau pun anjlok harganya sampai Rp5000 per kg, itu petani masih untung. Kita nda rugi. Kita beli hari ini Rp30 ribu per kg yang dijadikan benih bisa sampai 60 batang. Kalau 1 hektare lahan butuh benih 2 ton, berdasarkan pengalaman hasilnya bisa 15 sampai 20 ton,” bebernya.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR